Aliran Sungai Terbesar Malah Jadi Hamparan Pasir, Debit Kapuas, Barito, dan Mahakam Menyusut, Transportasi Logistik-Batu Bara Terancam

Di Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), misalnya, debit Kapuas menyusut drastis. Kondisi tersebut menyebabkan hamparan pasir muncul di sejumlah bagian sungai. Foto : Denar/ Kalteng Pos/ Jawa Pos

Di Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), misalnya, debit Kapuas menyusut drastis. Kondisi tersebut menyebabkan hamparan pasir muncul di sejumlah bagian sungai. Foto : Denar/ Kalteng Pos/ Jawa Pos

POJOKBANDUNG.COM, SANGGAU – Kapuas sungai terpanjang di Indonesia. Barito sungai terbesar di tanah air. Dan, Mahakam hanya kalah dari dua sungai itu dalam urusan panjang serta lebar.

Ketiganya pun menjadi urat nadi transportasi di provinsi tempat sungai-sungai tersebut mengalir. Di Mahakam, Kalimantan Timur, misalnya, pengangkutan orang, sembako atau logistik, sampai batu bara bergantung pada arus sungai yang bermuara di Selat Makassar tersebut.

Tapi, kemarau panjang dampak El Nino telah membuat sebagian wilayah aliran ketiga sungai raksasa di Kalimantan tersebut mengering. Dan, otomatis berdampak terhadap arus transportasi dan sumber air minum.

Di Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), misalnya, debit Kapuas menyusut drastis. Kondisi tersebut menyebabkan hamparan pasir muncul di sejumlah bagian sungai, seperti dilaporkan Pontianak Post.

Tapi, di sisi lain, pasir timbul itu kini dimanfaatkan warga sebagai lokasi wisata dadakan. “Bagi kami pedagang, pasir timbul ini menjadi rezeki tambahan karena dagangan lebih banyak yang membeli. Tapi, kami tetap berharap hujan segera turun,” ujar Sodri, seorang pedagang makanan.

Di Mahakam, meski mengalami penyusutan, debit air memang belum sampai menghambat aktivitas pelayaran. Tapi, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda tetap mengimbau perusahaan pelabuhan, agen kapal, nakhoda, hingga pemilik terminal khusus untuk menyesuaikan muatan kapal di bawah kapasitas normal.

“Di tengah air yang menyusut, ruang aman untuk berlayar pun ikut mengecil,” kata Kepala KSOP Kelas I Samarinda Mursidi seusai rapat bersama pimpinan DPRD Kaltim Senin (1/9) lalu, seperti dilansir Kaltim Post.

Hamparan Pasir

Seperti tak pernah ada sungai di bawah jembatan Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, itu. Sebab, yang tampak saat ini justru hamparan pasir.

Padahal, sebenarnya, itu aliran Barito, sungai yang berhulu di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan berhilir di Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut. Begitu pula di Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara, Kalteng.

Ketinggian air tinggal sekitar 0,6 meter. Padahal, biasanya rata-rata ketinggian air di sana 5–11,5 meter. Di Kalahien, kapal berukuran besar, termasuk tongkang batu bara, minyak, dan kayu, kesulitan melintas. Mengutip Kalteng Pos, hanya perahu kecil seperti jukung yang masih dapat digunakan. Itu pun dengan ruang gerak sangat terbatas. (agg/riz/ren/ttg/Jawa Pos)

 

loading...

Feeds

Ratusan Buruh Demo PT VinFast Subang

POJOKBANDUNG.COM, SUBANG- Tuntut mempekerjakan kembali 12 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), menggelar aksi unjuk rasa di depan pabrik …