POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meluncurkan uji coba teknologi baru pengolahan sampah kompos pit yang diklaim berpotensi mengurangi timbunan sampah hingga 500 ton per hari. Langkah pengolahan sampah merupakan bagian dari upaya Pemkot Bandung untuk menangani penumpukan sampah yang menjadi tantangan utama perkotaan dan mendukung program pengelolaan sampah berbasis ramah lingkungan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menjelaskan metode kompos pit akan diuji selama 30 hari penuh di beberapa lokasi strategis di kota untuk menilai efektivitasnya dalam mengurangi volume sampah. Setiap pit dirancang agar proses pengomposan berlangsung optimal dan dapat memaksimalkan pengurangan sampah organik.
“Ini merupakan langkah inovatif kami untuk menekan timbunan sampah yang selama ini menjadi masalah serius. Kami menargetkan pengurangan hingga 500 ton per hari dengan metode ini,” ujar Farhan, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, selain uji coba kompos pit, Pemkot Bandung juga memodifikasi sistem pengangkutan sampah. Rute dan jadwal armada pengangkut diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan sementara proses pengomposan berjalan, sehingga operasional pengelolaan sampah lebih efisien.
Farhan menjelaskan metode kompos pit memanfaatkan teknologi pengomposan modern yang mampu mempercepat dekomposisi sampah organik menjadi kompos siap pakai. Produk kompos ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk penghijauan kota, taman publik, hingga lahan pertanian perkotaan.
Farhan menegaskan keberhasilan uji coba ini akan menjadi tolok ukur pengelolaan sampah di Bandung ke depan. Jika berhasil, metode ini dapat diterapkan secara masif di seluruh kecamatan untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menekan dampak lingkungan akibat sampah menumpuk.
Farhan mengungkapkan Pemkot Bandung melibatkan tim teknis dari Dinas Lingkungan Hidup dan pihak konsultan lingkungan untuk memantau setiap tahap uji coba. Pengukuran volume sampah sebelum dan sesudah pengomposan dilakukan secara ketat agar data yang diperoleh akurat dan bisa dijadikan dasar evaluasi.
“Selain pengurangan sampah, metode kompos pit mampu menurunkan biaya operasional pengelolaan sampah. Volume sampah yang berkurang, jumlah truk pengangkut, tenaga kerja, dan energi yang digunakan juga bisa ditekan secara signifikan,” katanya.
Farhan menambahkan kompos pit bukan hanya solusi teknis, tetapi juga langkah edukasi bagi masyarakat. Warga di sekitar lokasi uji coba dilibatkan untuk memahami pengelolaan sampah organik dan manfaatnya bagi lingkungan.
“Dengan melibatkan masyarakat, kami berharap warga bisa ikut mengurangi sampah dari rumah dan belajar memisahkan sampah organik agar kompos pit berjalan maksimal,” ucapnya.
Farhan mengatakan pengujian akan berlangsung 30 hari, dengan evaluasi rutin setiap minggu. Pemkot Bandung akan menyesuaikan metode dan teknik berdasarkan temuan lapangan untuk memastikan efektivitasnya dalam jangka panjang.
“Jika hasilnya positif, kompos pit akan diterapkan di seluruh wilayah Bandung, terutama di kawasan padat penduduk yang selama ini menjadi sumber sampah organik terbesar,” jelasnya.
Farhan menambahkan selain pengolahan, ia mengimbau masyarakat tetap disiplin dalam membuang sampah sesuai jenisnya, organik, non-organik, dan residu. Hal ini penting agar metode kompos pit bisa bekerja optimal.
“Kesuksesan pengurangan sampah ini sangat bergantung pada partisipasi warga. Sampah organik yang dipisahkan di rumah akan langsung masuk ke pit dan menjadi kompos berkualitas,” ujar Farhan.
Melalui inovasi ini, Pemkot Bandung berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, nyaman, dan sehat, sekaligus mengurangi tekanan terhadap TPA dan mendukung target kota hijau yang berkelanjutan.(dsn)




















