POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Aksi jual investor asing masih menekan bursa saham Indonesia. Pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,64 persen atau 188,50 poin ke level 4.996,61.
Untuk meredam kepanikan pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) saham menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu berlaku hingga 31 Desember 2026 dan akan dievaluasi sesuai perkembangan pasar.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, kebijakan tersebut diambil setelah pasar dikejutkan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Jumat (16/10/2026) dini hari. MSCI mengancam menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Menurut Jeffrey, pengumuman tersebut tidak diperkirakan sebelumnya, baik oleh BEI dan OJK maupun sebagian besar investor global yang berkomunikasi dengan bursa. “Untuk mencegah investor mengambil keputusan dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, ketakutan, kepanikan, makanya kami mengambil kebijakan untuk menyesuaikan auto rejection bawah menjadi 7 persen. Kami tahu itu bukan sesuatu yang umum dilakukan, tetapi tujuan kami supaya investor tidak mengambil keputusan di dalam ketidakpastian yang sangat tinggi, kebingungan, apalagi ketakutan,” jelasnya.
Jeffrey menyebut penyesuaian ARB cukup efektif meredam kepanikan. Berdasar pemantauan BEI pada sesi pertama perdagangan Senin (19/10/2026), tekanan jual masih terjadi. Namun, penurunan indeks tidak sampai menyentuh batas ARB 7 persen. “Dari pantauan kami, kepanikan seperti yang terjadi di hari Jumat itu sudah berkurang,” ujarnya.
Pantauan Jawa Pos menunjukkan, aksi jual asing masih membayangi saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG. Saham Bank Central Asia (BBCA), misalnya, kembali menyentuh ARB setelah terkoreksi 6,85 persen. Hingga penutupan perdagangan, antrean jual saham tersebut mencapai 2,9 juta lot.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga sempat menyentuh ARB. Namun, aksi beli dalam jumlah besar pada sesi kedua mampu mengurangi tekanan. BBRI akhirnya ditutup melemah 3,78 persen.
Tekanan serupa dialami saham Telkom Indonesia (TLKM). Saham emiten telekomunikasi tersebut ambles 6,84 persen hingga menyentuh ARB.
Berdasar data BEI, BBRI dan BBCA menjadi dua saham yang paling banyak dilepas investor asing pada perdagangan kemarin. Penjualan bersih (net sell) BBRI mencapai Rp 1,08 triliun. Sementara itu, net sell BBCA tercatat Rp 986,871 miliar.
Aksi Jual Meluas
Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, penurunan IHSG mengingatkan pada tekanan pasar saham saat pandemi Covid-19. “Pergerakan IHSG yang terperosok hingga menyentuh level psikologis 4.900-an merupakan koreksi yang sangat dalam dan belum pernah terjadi lagi sejak era pandemi,” kata Rahma kepada Jawa Pos, kemarin (19/10). Pada masa pandemi, terutama pada periode Oktober 2020, IHSG memang berada di level 4.900-an.
Menurut Rahma, salah satu pemicu utama keluarnya dana asing adalah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dalam klasifikasi MSCI.
Persoalan itu berkaitan dengan sejumlah aspek mendasar, terutama transparansi pasar, integritas, dan porsi saham yang beredar di publik (free float). Ketiganya menjadi pertimbangan penting investor institusional global dalam mengambil keputusan investasi.
Tekanan juga meningkat setelah IHSG menembus level teknikal penting. Jebolnya level support di kisaran 6.000 memperkuat tren bearish dan mendorong aksi jual meluas ke berbagai sektor, mulai perbankan berkapitalisasi besar hingga energi.
“Reaksi pasar yang reaktif membuat volatilitas melonjak drastis, memicu kekhawatiran likuiditas ketat dan potensi tekanan lanjutan pada nilai tukar rupiah jika narasi keluarnya dana asing tidak segera diredam,” lanjutnya.
Rahma menilai, pemulihan IHSG dalam jangka pendek hingga menengah bergantung pada kecepatan dan efektivitas respons otoritas pasar modal bersama pemerintah. Dialog transparan dengan MSCI, pembenahan aturan keterbukaan informasi, serta penguatan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) menjadi langkah mendesak untuk memulihkan kepercayaan investor.
Kejelasan arah kebijakan juga diperlukan agar kekhawatiran pelaku pasar tidak berkembang menjadi tekanan jual yang lebih luas. Pemulihan kepercayaan investor menjadi salah satu faktor penentu untuk meredam arus keluar modal asing.
“Secara teknikal, level 4.700–4.895 kini menjadi benteng support berikutnya. Jika sentimen negatif mereda dan ada kejelasan dari otoritas bursa, pasar berpotensi mengalami fase technical rebound akibat aksi bargain hunting (akumulasi saham berfundamental kuat yang sudah sangat murah atau oversold, Red),” tuturnya.
Di tengah gejolak pasar keuangan, Rahma mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan ekonomi domestik. Daya beli masyarakat dan disiplin fiskal harus tetap menjadi perhatian agar kepanikan di pasar modal tidak menjalar secara sistemik ke sektor riil. (mim/oni/Jawa Pos)



















