Harga Plastik Naik, Pelaku UMKM di Bandung Raya Pilih Untung Tipis Asal Harga Tak Naik

Seorang warga menunjukan barang belanjaannya menggunakan kantong plastik, Selasa (7/4/2026). Foto : Taofik Achmad Hidayat/ Pojok Bandung

Seorang warga menunjukan barang belanjaannya menggunakan kantong plastik, Selasa (7/4/2026). Foto : Taofik Achmad Hidayat/ Pojok Bandung

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Kenaikan harga plastik yang mencapai 30 hingga 50 persen dalam sepekan terakhir mulai menekan pelaku UMKM, khususnya pedagang minuman dan kuliner di Bandung. Meski biaya produksi melonjak, sebagian besar pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli pelanggan yang masih lemah.

Pedagang minuman dan warung, Fitri mengaku lonjakan harga terasa saat belanja bahan kemasan cup, sedotan, dan plastik minuman. Ia menyebut modal yang sebelumnya berkisar Rp900 ribu kini tembus lebih dari Rp1 juta untuk kebutuhan yang sama. Menurut Fitri, pilihan untuk menaikkan harga bukan keputusan mudah. Ia masih menahan kenaikan harga jual, meski konsekuensinya harus merelakan margin keuntungan yang terus tergerus.

“Kalau dinaikkan Rp1.000 sampai Rp2.000, takut pelanggan kabur. Jadi sementara ditanggung dulu,” ujar Fitri, Selasa (7/4/2026).

Kondisi serupa diungkapkan pedagang di kawasan Lengkong Kecil, Saupri mencatat kenaikan harga plastik mencapai sekitar 20 persen, dengan harga cup plastik ukuran standar naik dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per 50 buah, sementara tutup plastik naik dari Rp4 ribu menjadi Rp5 ribu.

“Kenaikan ini, tidak hanya berdampak pada pedagang minuman, tetapi juga pelaku usaha kuliner secara luas. Pasalnya, kemasan plastik menjadi kebutuhan utama dalam operasional harian, terutama untuk layanan bawa pulang,” kata Saupri.

Lebih jauh, Saupri menyebut pelaku usaha kuliner menghadapi tekanan berlapis. Selain kemasan, harga bahan baku makanan juga ikut merangkak naik, terutama komoditas buah yang kini semakin sulit didapat di pasaran. Saupri mengungkapkan di sejumlah pasar Andir dan Ciroyom, harga buah melonjak signifikan. Mangga kaweni misalnya, naik dari Rp18 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram. Alpukat dari Rp22 ribu menjadi Rp28 ribu, buah naga dari Rp15 ribu ke Rp20 ribu, dan melon dari Rp17 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram.

“Kenaikan ini diduga dipicu oleh terbatasnya pasokan di tingkat pedagang grosir, adanya pemborongan oleh pemasok besar yang membuat barang semakin langka di pasar tradisional,” ucapnya.

Dampaknya, Saupri menambahkan pedagang kuliner kini dihadapkan pada dilema. Jika harga dinaikkan, mereka khawatir kehilangan pelanggan. Namun jika takaran bahan dikurangi, kualitas rasa produk ikut berubah dan berpotensi mengecewakan konsumen. Kondisi serupa juga dirasakan pelaku usaha kopi kekinian, Didin menyebut kenaikan harga plastik secara langsung memukul margin usaha, terutama karena kemasan menjadi bagian tak terpisahkan dari produk minuman siap saji.

“Untuk sekarang kami belum berani menaikkan harga, karena daya beli masyarakat masih belum stabil. Takaran juga tetap dipertahankan supaya kualitas rasa tidak berubah,” kata Didin.

Didin pun menambahkan, hingga saat ini belum ada alternatif bahan kemasan ramah lingkungan yang benar-benar bisa menggantikan fungsi plastik untuk produk minuman kopi dan jus. Didin juga mengungkapkan kenaikan harga plastik mulai terasa sejak akhir pekan lalu. Harga cup plastik yang sebelumnya Rp15 ribu kini naik menjadi Rp19 ribu, dan tren kenaikan diperkirakan masih akan berlanjut.

Para pelaku UMKM berharap kondisi ini terus berlanjut, pelaku UMKM tidak menutup kemungkinan akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. Namun langkah penyesuaian harga jual tetap menjadi opsi terakhir di tengah kekhawatiran turunnya daya beli masyarakat. Di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat, pelaku UMKM kini bertaruh pada loyalitas pelanggan. Mereka memilih bertahan, meski harus mengorbankan keuntungan, demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah situasi yang belum pasti.

Kenaikan harga plastik juga dirasakan di sejumlah pasar di Kabupaten Bandung Barat. Harga plastik di pasar Tagog Padalarang yang mengalami kenaikan yakni plastik kiloan (PE/PP/bening) Rp19.000-Rp22.000 per kilogram, plastik kresek/hitam Rp15.000-Rp25.000 per pack.  Sementara itu, plastik PE bening besar Rp20.000-Rp59.000 per pack, tali rafia Rp23.000-Rp25.000 per gulung, plastik PP roll Rp14.000-Rp112.000 tergantung ukuran, gelas plastik Rp23.000-Rp55.000, serta styrofoam Rp35.000-Rp55.000.

Pedagang plastik di Pasar Tagog Padalarang, Kiki (48) mengatakan, kenaikan harga tersebut merata di setiap jenis plastik yang menjadi pemakaian rutin warga maupun para pedagang.

“Harga plastik naik hampir semua jenis, mulai dari kantong, gelas, sedotan, hingga styrofoam. Biaya operasional kami ikut terdampak signifikan,” katanya.

Ia menambahkan, lonjakan harga ini membuat pelaku usaha kecil kesulitan menyesuaikan biaya produksi tanpa memangkas keuntungan.

“Setiap kali harga naik, kami harus menghitung ulang modal, stok, dan harga jual. Jika terus berlanjut, usaha kecil bisa kesulitan bertahan,” katanya.

Sementara itu, Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyampaikan pemerintah saat ini tengah membahas langkah mitigasi atas kenaikan harga plastik, yang dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku akibat ketidakpastian pasokan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut telah berdampak pada pelaku UMKM, sehingga pemerintah menyiapkan langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil dan menengah. Maman mengakui bahwa sejumlah pelaku UMKM telah menyampaikan keluhan terkait naiknya harga plastik untuk kemasan produk.

“Sudah ada aspirasi yang masuk. Kebutuhan plastik untuk bungkus produk memang naik. Tapi kami akan siapkan mitigasinya,” kata Maman.

Ia mengatakan Kementerian UMKM akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk menentukan langkah yang tepat dalam mengatasi dampak kenaikan bahan baku plastik. Terkait detail langkah yang akan diambil, Maman menilai masih terlalu dini untuk dijelaskan sebelum pembahasan teknis selesai

Di sisi lain, Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto mengingatkan pemerintah untuk segera melakukan intervensi pasar dan melindungi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dari kenaikan harga plastik beberapa waktu terakhir. Menurut dia, kenaikan harga plastik lebih dari dua kali lipat telah menekan margin keuntungan pelaku usaha kecil dan berada dalam posisi dilematis karena tidak dapat dengan mudah menaikkan harga jual tanpa berisiko kehilangan konsumen.

“Ini bukan sekadar kenaikan harga biasa, tetapi sudah masuk kategori tekanan biaya yang serius bagi UMKM,” kata Firnando dalam keterangannya di Jakarta.

Ia mengatakan kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa respons kebijakan yang konkret dari pemerintah. Kementerian Perdagangan, kata dia, perlu segera mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga dan memastikan ketersediaan bahan baku di pasar domestik.

“Jika tidak segera diintervensi, dampaknya bisa meluas ke penurunan daya tahan usaha kecil dan berpotensi memicu inflasi sektor informal,” ujarnya.

Kenaikan harga plastik dipicu oleh terganggunya pasokan global dan industri petrokimia. Menurutnya, fenomena ini merupakan bentuk nyata dari cost push inflation, di mana kenaikan biaya input produksi memaksa pelaku usaha menanggung beban tambahan. Dalam kondisi ini, UMKM menjadi pihak yang paling rentan karena keterbatasan daya tawar dan akses terhadap alternatif bahan baku.

“Pemerintah perlu segera melakukan stabilitas melalui beberapa langkah, seperti pengawasan distribusi bahan baku serta penguatan industri petrokimia dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global,” tandasnya. (arh/jpc/dsn/kro)

DATA DAN FAKTA

– Kenaikan harga plastik yang mencapai 30 hingga 50 persen.

– Kenaikan plastik membuat UMKM harus mengeluarkan modal lebih besar.

– Kenaikan plastik belum membuat UMKM menaikkan harga.

– UMKM masih menahan kenaikan harga jual, meski margin keuntungan berkurang.

– Harga cup plastik ukuran standar naik dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per 50 buah.

– Sementara tutup plastik naik dari Rp4 ribu menjadi Rp5 ribu.

– Harga plastik kiloan (PE/PP/bening) Rp19.000-Rp22.000 per kilogram.

– Harga plastik kresek/hitam Rp15.000-Rp25.000 per pack.

– Plastik PE bening besar Rp20.000-Rp59.000 per pack.

– Harga tali rafia Rp23.000-Rp25.000 per gulung.

– Harga plastik PP roll Rp14.000-Rp112.000 tergantung ukuran.

– Harga gelas plastik Rp23.000-Rp55.000.

 

 

loading...

Feeds

Ratusan Buruh Demo PT VinFast Subang

POJOKBANDUNG.COM, SUBANG- Tuntut mempekerjakan kembali 12 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), menggelar aksi unjuk rasa di depan pabrik …