POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memperketat pengawasan hewan kurban dengan pendekatan digital dan medis. Warga kini bisa memastikan kesehatan hewan hanya dengan memindai barcode melalui aplikasi E-Selamat, sebuah inovasi yang diklaim mampu meningkatkan rasa aman saat memilih hewan kurban.

Ilustrasi. Sejumlah sapi ternak di Kota Bandung, jelang Iduladha Pemkot Bandung melalui DKPP memastikan hewan kurban yang beredar telah lolos pemeriksaan ante mortem dan siap dipantau melalui sistem barcode demi menjamin keamanan pangan masyarakat.Foto-foto : Taofik Achmad Hidayat/Pojok Bandung.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menilai pengawasan hewan kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi bagian penting dari perlindungan kesehatan publik, menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap potensi penyakit zoonosis, penyakit yang menular dari hewan ke manusia, yang menurut data Kementerian Kesehatan mencapai 58 persen.
Gin Gin menegaskan aspek kesehatan hewan menjadi prioritas utama menjelang Iduladha. Ia menyebut keamanan pangan berbasis hewani sangat bergantung pada kualitas pemeriksaan sebelum dan sesudah penyembelihan.
“Inovasi ini memberi transparansi kepada masyarakat. Semua data kesehatan hewan bisa diakses langsung melalui ponsel, sehingga tidak ada lagi keraguan saat membeli hewan kurban,” ujar Gin Gin, Senin (20/4/2026).
Gin Gin menjelaskan Aplikasi E-Selamat (Sehat Layak Makin Tenang) menjadi salah satu terobosan utama tahun ini. Setiap hewan yang telah lolos pemeriksaan akan ditempeli stiker barcode yang dapat dipindai untuk menampilkan informasi lengkap, mulai dari foto hingga hasil pemeriksaan kesehatan.
Menurutnya, melalui sistem ini, warga tidak hanya bergantung pada penilaian visual, tetapi juga data medis yang terverifikasi, dinilai mampu menekan potensi peredaran hewan tidak layak yang berisiko bagi kesehatan konsumen.
“Pengawasan dilakukan dalam dua tahap ketat. Tahap pertama pemeriksaan ante mortem, pengecekan kondisi fisik hewan saat masih hidup. Pemeriksaan memastikan hewan dalam kondisi sehat, cukup umur, serta tidak cacat secara syariat,” katanya.
Gin Gin pun menjelaskan tahap kedua pemeriksaan post mortem, yang dilakukan setelah penyembelihan. Pada tahap ini, petugas memeriksa organ dalam untuk mendeteksi penyakit yang tidak terlihat saat pemeriksaan awal.
Gin Gin mengungkapkan untuk memastikan seluruh proses berjalan optimal, DKPP menurunkan 184 petugas yang terdiri dari ASN dan non-ASN. Mereka disebar ke 30 kecamatan di Kota Bandung untuk menjangkau seluruh titik penjualan dan penyembelihan hewan kurban.
Pengawasan juga melibatkan kolaborasi lintas lembaga, seperti Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Barat I, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Padjadjaran, serta Telkom University melalui Program Studi Unggulan CAATIS.
Tidak hanya fokus pada hewan, DKPP juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan pemotongan halal hewan kurban digelar sejak 15 April hingga 21 Mei 2026 dalam 17 angkatan.
“Peserta pelatihan berasal dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) hingga masyarakat umum. Mereka dibekali materi mulai dari fiqih penyembelihan, teknik pemotongan halal, hingga prinsip higiene dan kesejahteraan hewan,” jelasnya.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta Lembaga Penyelia Halal Salman ITB, sehingga materi yang diberikan mencakup aspek syariat dan teknis secara menyeluruh.
Melalui program ini, diharapkan lahir kader juru sembelih halal (Juleha) yang kompeten. Meski secara formal tetap memerlukan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pelatihan ini menjadi langkah awal peningkatan kualitas SDM.
Gin Gin menargetkan seluruh proses kurban tahun ini memenuhi tiga aspek utama, syariat, kesehatan, dan keamanan pangan. Hal penting agar daging yang dikonsumsi masyarakat tidak hanya halal, tetapi juga aman dan berkualitas.
“Pengawasan berlapis dan dukungan teknologi, masyarakat dapat menjalankan ibadah kurban dengan lebih tenang, hewan kurban yang dipilih telah melalui proses pemeriksaan ketat, sehingga risiko kesehatan dapat diminimalkan sejak awal,” ujar Gin Gin.(dsn)




















