POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan ada sejumlah perusahaan besar yang bertindak curang dalam kasus beras premium oplosan.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Foto : Nurul F/JawaPos.com. Sementara itu foto atas, Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek pembangkit dan gardu listrik di 18 provinsi serentak di Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/1/2025). Foto : YouTube Setpres
Menurut Tito, Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut perusahaan itu adalah vampir sang pengisap darah.
Menurut Tito, ada ironi besar yang terjadi saat ini. Karena, ketika stok beras di Indonesia melimpah dan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog mencapai 4,6 juta ton, harganya justru naik.
”Salah satunya karena ada temuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa ada beberapa praktik tidak baik. Terjadi distribusi tidak baik pascapanen,” ungkapnya saat mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah kemarin (22/7/2025).
Sejumlah perusahaan, kata Tito, bertindak curang dalam penjualan beras. Pertama, dengan mengurangi takaran jumlah beras yang dijual.
Dia mencontohkan, pada beras kemasan 5 Kg yang ternyata berisi 4,5 Kg.
”Ini 0,5 kilogram per kantong yang dikurangi, kali berapa juta kantong?” ujarnya.
Modus kecurangan kedua adalah pengoplosan beras. Perusahaan mencampur beras premium dengan medium.
Lalu, beras dijual dengan harga tinggi.
”Ini dilakukan perusahaan-perusahaan. Ada yang perusahan besar, bayangkan,” katanya. Namun, dia tidak memerinci perusahaan tersebut.
Manipulasi itu, kata Tito, membuat Presiden Prabowo Subianto menyebut perusahaan tersebut vampir sang pengisap darah. ”Artinya, mengisap darah rakyat. Rakyat yang harusnya ditolong malah darahnya diisap, membuat beban rakyat menjadi tinggi,” tuturnya.
Dalam rapat tersebut, Tito juga turut menyoroti soal inflasi bawang merah yang masih mendominasi. Begitu pula cabai rawit. Menurut dia, meski keduanya bukan makanan pokok, namun kenaikan harga dua komoditas itu tak boleh disepelekan.
Sidak Satgas Pangan Bali
Satgas Pangan Polda Bali memantau peredaran beras di sejumlah titik di Kota Denpasar kemarin (22/7).
Sasarannya yaitu tempat penggilingan padi di kawasan Jalan Kebo Iwa, Pasar Badung, dan pusat perbelanjaan Tiara Dewata, Jalan Diponegoro.
Dalam kegiatan tersebut, polisi turut melibatkan Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Bulog, serta Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Bali.
Direktur Reskrimsus Polda Bali Kombes Pol Teguh Widodo mengungkapkan, langkah itu merupakan respons cepat atas kekhawatiran masyarakat mengenai dugaan beredarnya beras premium oplosan.
”Hasilnya, kami tidak menemukan indikasi pengoplosan beras yang dijual ke masyarakat,” ujarnya.
Menurut Teguh, beras yang dijual di pasar dan pusat perbelanjaan sesuai dengan kualitasnya. Tidak ada pengurangan berat juga pemalsuan label. Meski hasil sidak nihil, Satgas Pangan akan terus melakukan pengawasan secara berkala. Sebab, peredaran beras premium oplosan bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga merusak iklim usaha bagi para pedagang yang menjual produk secara jujur. ”Kami tidak segan menindak secara tegas jika ditemukan unsur penipuan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Wayan Sunada memastikan bahwa stok beras di Bali saat ini dalam kondisi aman dan surplus. ”Kebutuhan beras di Bali sekitar 414 ribu ton per tahun. Saat ini, ketersediaan masih mencukupi dan tidak ada gejolak signifikan di lapangan,” katanya. (mia/dre/aph/jawa pos)




















