Jangan Biarkan Gawai Gantikan Peran Orang Tua, Ini Solusi dari Bupati Bandung Dadang Supriatna


Ilustrasi. Anak-anak bermain lato lato di jalanan. Foto : TAOFIK AHMAD HIDAYAT / RADAR BANDUNG/POJOK BANDUNG

Ilustrasi. Anak-anak bermain lato lato di jalanan. Foto : TAOFIK AHMAD HIDAYAT / RADAR BANDUNG/POJOK BANDUNG

POJOKBANDUNG.COM, KAB. BANDUNG – Tingginya penggunaan gawai di Kabupaten Bandung menjadi tantangan baru bagi banyak orang tua dalam mendidik anak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat tahun 2023, 97,91 persen pemuda di Kabupaten Bandung menggunakan telepon seluler dan 94,99 persen telah mengakses internet.

Di balik tingginya akses digital tersebut, orang tua mulai menghadapi persoalan baru, mulai dari anak yang mudah marah saat penggunaan gawainya dibatasi, berkurangnya interaksi dalam keluarga, hingga meningkatnya risiko paparan konten negatif di ruang digital.

Kondisi itu dirasakan Siti Nurhayati (38), warga Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung,  yang memiliki anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, anaknya sering menunjukkan emosi berlebihan ketika diminta berhenti bermain gim di telepon genggam.

“Kalau sudah main HP terus disuruh berhenti buat belajar atau makan, kadang langsung marah, ngambek, bahkan nangis. Sekarang saya sama suami bikin aturan jam main HP supaya tidak kebablasan,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Pengalaman serupa dialami Dedi Supriyadi (45), warga Kecamatan Soreang yang memiliki anak SMP. Ia mengaku anaknya kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawainya dibandingkan berbincang dengan keluarga.

“Dulu pulang sekolah masih suka cerita atau main sama teman. Sekarang lebih sering pegang HP. Diajak ngobrol juga jawabnya seperlunya karena fokus ke layar,” katanya.

Sementara itu, Rina Marlina (47), warga Kecamatan Ciwidey yang memiliki anak SMA, menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengendalikan emosi anak akibat terlalu sering menggunakan gawai.

“Kalau ditegur sedikit kadang emosinya cepat naik. Saya sama suami sekarang lebih memilih mengajak ngobrol daripada langsung memarahi. Kami tidak ingin HP lebih didengar daripada orang tuanya,” tutur Rina.

Menurut ketiga orang tua tersebut, penggunaan gawai sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Namun, tanpa pengawasan yang cukup, anak-anak menjadi lebih sulit mengendalikan emosi, kurang bersosialisasi, dan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan berinteraksi dengan keluarga.

Mereka berharap ada edukasi yang lebih masif kepada orang tua mengenai pola pendampingan anak di era digital. Sebab, pembatasan penggunaan gawai dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi komunikasi yang baik di dalam keluarga.

Fenomena tersebut juga menjadi perhatian Bupati Bandung Dadang Supriatna. Ia mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan telepon genggam mengambil alih peran keluarga dalam membentuk karakter anak.

“Periksalah isi HP anak-anak kita. Kalau sudah masuk waktu Magrib, ambil HP-nya dan ajak mereka Magrib Mengaji,” ujar Dadang.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah maupun teknologi. Peran keluarga, khususnya orang tua, tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian anak.

“Saya bisa menjadi Bupati dua periode karena berkah dan doa seorang ibu. Maka muliakan ibu dan hormati ibu. Ibu adalah guru pertama bagi anak-anak kita,” katanya.

Dadang berharap orang tua semakin aktif mendampingi anak dalam menggunakan gawai sehingga teknologi tetap menjadi sarana belajar dan berkembang, bukan menggantikan kehadiran keluarga sebagai tempat pertama anak memperoleh pendidikan karakter. (kus)

loading...

Feeds

Ratusan Buruh Demo PT VinFast Subang

POJOKBANDUNG.COM, SUBANG- Tuntut mempekerjakan kembali 12 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), menggelar aksi unjuk rasa di depan pabrik …