Kabut Asap Makin Pekat, Udara Pontianak Masuk Kategori Berbahaya, Penurunan Jarak Pandang di Palangka Raya Ganggu Penerbangan

POJOKBANDUNG.COM, PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), makin pekat kemarin (20/9).

Pantauan sekitar pukul 16.00 menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 958 atau masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan partikulat halus.

Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi 555,5 mikrogram per meter kubik.

Paparan partikulat tersebut berisiko lebih tinggi terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak dr Nur Anissa mengatakan, paparan asap karhutla dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi paru dan meningkatkan reaktivitas saluran pernapasan. Tingkat risikonya dipengaruhi konsentrasi polutan, durasi paparan, ukuran partikel, aktivitas, serta kondisi kesehatan seseorang.

”Semakin tinggi konsentrasi polutan dan semakin lama seseorang terpapar, risiko gangguan kesehatan juga dapat meningkat,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan PM2.5.

”Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan pernapasan lainnya,” ujar Annisa.

Flight Tertunda

Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kemarin (20/9).

Jarak pandang turun hingga 600 meter sehingga sejumlah penerbangan harus menunggu perkembangan kondisi. General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya I Made Darmawan mengatakan, terdapat 14 penerbangan yang terdampak. Perinciannya, tujuh penerbangan kedatangan dan tujuh keberangkatan.

Jarak pandang turun dari 1.200 meter pada pukul 05.00 menjadi sekitar 600 meter pada pukul 10.30–11.00.

”Kondisi tersebut belum memungkinkan untuk aktivitas penerbangan karena berada di bawah batas minimum operasional,” jelasnya.

Hingga siang, sejumlah penerbangan masih menunggu perkembangan jarak pandang. Di antaranya Super Air Jet IU 674 dari Surabaya dan Wings Air IW 1369 dari Balikpapan. Sementara itu, Super Air Jet IU 395 tujuan Semarang dengan 109 penumpang dan Wings Air IW 1368 tujuan Balikpapan dengan 18 penumpang mengalami keterlambatan akibat penyesuaian penerbangan. Darmawan menegaskan, kondisi tersebut bukan karena bandara ditutup.

Bandara Tjilik Riwut tetap beroperasi dan fasilitas penerbangan siap digunakan.

”Kendala utama saat ini murni karena keterbatasan jarak pandang akibat kabut asap,” tegasnya. 8.000 Nila Mati Dampak cuaca panas juga dirasakan pembudi daya ikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Sedikitnya 8.000 ikan nila mati akibat suhu air kolam meningkat. Salah satu yang terdampak adalah Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara.

Misera, anggota kelompok tersebut, mengatakan awalnya terdapat sekitar 10.000 bibit nila yang dibudidayakan di kolam terpal. Kini, hanya sekitar 2.000 ekor yang tersisa. ”Sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya.

Kabid Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Hulu Sungai Tengah Syaifuddin Noor mengatakan, sedikitnya empat kelompok pembudi daya ikan melaporkan terdampak cuaca panas dan kekeringan.

Selain Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak, dampak dirasakan Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan. Kedua kelompok tersebut membudidayakan ikan gabus atau haruan menggunakan kolam tanah. Kemarau membuat debit air kolam berkurang sehingga mengganggu kegiatan budi daya. (iza/rif/jml/aph/Jawa Pos)

loading...

Feeds