POJOKBANDUNG.COM, JOGJA – Sekitar 1.000 ayam petelur dibagikan gratis kepada warga di kawasan Malioboro, Jogjakarta, Senin (10/8/2026). Aksi itu merupakan bentuk protes peternak terhadap anjloknya harga telur hingga di bawah Rp 20 ribu per kilogram.
Aksi protes itu disampaikan Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y). Pantauan Radar Jogja Grup Jawa Pos, mereka mengawali aksi dari DPRD DIJ sebelum bergerak menuju Malioboro untuk membagikan ayam.
Koordinator aksi Andry Patra mengatakan, pembagian ayam menjadi simbol kondisi sulit yang dihadapi peternak. Ayam yang dibagikan merupakan ayam petelur berusia di atas 90 minggu dengan produktivitas yang mulai menurun.
’’Peternak hari ini mengalami banyak kerugian. Harga telur di bawah Rp 20 ribu, sementara harga pakan sekitar Rp 8 ribu. Kondisi ini kami alami selama tiga sampai empat bulan,’’ katanya.
Menurut Andry, dengan harga pakan saat ini, harga telur idealnya berada di kisaran Rp 26 ribu per kilogram agar usaha peternakan tetap layak.
Dia menegaskan, pembagian ayam bukan karena peternak kelebihan stok. Langkah itu justru dilakukan untuk mengurangi populasi ayam di tengah melimpahnya pasokan. Ayam berusia di atas 90 minggu sebenarnya masih bertelur.
Namun, produktivitasnya terus menurun sehingga secara ekonomi sudah masuk kategori ayam afkir. Persoalannya, harga ayam afkir juga anjlok. Saat ini hanya laku sekitar Rp 13 ribu–Rp 14 ribu per kilogram.
’’Kalau yang dibagikan telur, masyarakat nanti tidak membeli telur di pasar. Kami memilih membagikan ayam karena memang perlu mengurangi populasi yang saat ini terlalu tinggi,’’ jelasnya.
Tekanan tersebut membuat sebagian peternak kesulitan mempertahankan usaha. Bahkan, ada yang terpaksa menggadaikan sertifikat rumah maupun BPKB untuk tambahan modal.
Menurut Andry, kondisi sekarang jauh berbeda dibanding saat harga pakan masih sekitar Rp 6.500 per kilogram. Ketika itu, harga telur Rp 25 ribu–Rp 26 ribu per kilogram masih memberikan keuntungan yang wajar. ’’Waktu harga pakan Rp 6.500 dan telur Rp 24 ribu sampai Rp 26 ribu, semua masih fair. Sekarang peternak terus merugi,’’ keluhnya lagi. Dia memperkirakan kerugian peternak mencapai sekitar Rp 6 ribu untuk setiap kilogram telur yang diproduksi.
Dalam aksi tersebut, P3Y menyampaikan enam tuntutan.
Antara lain, meminta pemerintah menurunkan harga pakan, mewujudkan harga telur yang adil bagi peternak, pedagang, dan konsumen, menciptakan tata niaga bahan baku pakan yang sehat dan transparan, menjamin ketersediaan jagung, memperkuat kelembagaan peternakan, serta membantu penyerapan ayam afkir.
Menurut Andry, jagung menjadi komponen paling penting karena porsinya mencapai sekitar 50 persen bahan baku pakan. ’’Kami juga meminta pemerintah memikirkan mekanisme penyerapan ayam afkir, baik melalui industri pemotongan ayam maupun pihak swasta dan pemerintah,’’ harapnya.
DPRD Minta Produksi Jagung Ditingkatkan
Anggota Komisi A DPRD DIJ Sofyan Setyo Darmawan mengatakan, aspirasi peternak akan ditindaklanjuti. Terutama terkait tingginya harga pakan yang menjadi komponen terbesar dalam Harga Pokok Produksi (HPP) telur.
Menurut dia, menaikkan harga telur bukan satu-satunya solusi. Sebab, kenaikan harga di tingkat konsumen justru akan membebani masyarakat. Karena itu, pemerintah harus mencari cara menekan biaya produksi, terutama melalui penurunan harga bahan baku pakan.
’’Kalau harga telur dinaikkan, masyarakat yang akan menjerit. Selama harga telur masih terjangkau, itu harus dipertahankan. Tugas berikutnya adalah menurunkan HPP-nya,’’ kata Sofyan.
Dia menilai, jagung menjadi komponen yang paling memungkinkan diintervensi pemerintah. Peningkatan produksi jagung nasional diyakini dapat menekan harga pakan. ’’Kalau produksi jagung meningkat, pasokan lebih terjamin dan harganya bisa lebih terjangkau,’’ ujarnya.
Sofyan juga menyoroti program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung melalui Bulog. Menurut dia, cakupan penerima program itu masih perlu diperluas. Saat ini baru sekitar 79 peternak yang menerima SPHP jagung.
Sofyan menambahkan, persoalan serapan telur juga tidak cukup mengandalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Konsumsi masyarakat juga harus ditingkatkan agar produksi telur yang melimpah dapat terserap pasar. Sebab, meski harga telur sudah murah, kelebihan pasokan akan tetap menekan harga di tingkat peternak jika konsumsi tidak ikut meningkat. (iza/oni/Jawa Pos)



















