POJOKBANDUNG.COM, JATINANGOR – Maraknya praktik judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal yang menyasar generasi muda mendorong PT Pegadaian (Persero) memperkuat edukasi literasi keuangan di kalangan mahasiswa.
Melalui kegiatan talkshow bertajuk Financial Literacy on The Way – Finansial Mandiri Dimulai Hari Ini perusahaan pelat merah itu mengajak mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini melalui investasi emas sebagai instrumen yang aman, mudah, dan terjangkau.
Kegiatan edukasi tersebut digelar di The Gade Creative Lounge, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jatinangor, Selasa (4/8/2026). Program ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang sehat di tengah meningkatnya risiko penyalahgunaan layanan keuangan digital, seperti judi online dan pinjaman online ilegal.
Sales Business to Business Senior PT Pegadaian (Persero) Area Tasikmalaya, Muhammad Razhi, mengatakan mahasiswa merupakan kelompok usia yang masih berada dalam fase pencarian jati diri sehingga kerap belum memikirkan perencanaan keuangan untuk masa depan.
Baca juga : Mahasiswa ITB Minta Anggaran Negara Lebih Berpihak ke Daya Beli Rakyat dan Industri
“Kebanyakan mahasiswa memiliki kebiasaan yang masih labil. Mereka masih dalam proses pencarian jati diri sehingga belum memikirkan masa depan mereka,” ujar Razhi.
Menurutnya, edukasi literasi keuangan penting diberikan sejak bangku kuliah agar mahasiswa memiliki bekal dalam mengelola keuangan setelah lulus dan tidak mudah terjebak praktik keuangan ilegal.
“Dengan memberikan edukasi ini, kami berharap mahasiswa mampu mengelola keuangan dengan baik ketika lulus nanti serta terhindar dari judi online maupun pinjaman online ilegal,” katanya.
Razhi menambahkan, Pegadaian secara konsisten menjalankan program Gerakan Cerdas Keuangan Nasional (Gencarkan) yang menyasar berbagai kalangan, tidak hanya di perguruan tinggi, tetapi juga masyarakat di wilayah terpencil, tertinggal, dan terluar (3T). Program tersebut berlangsung hingga akhir 2026 di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kami masih memiliki program Gerakan Cerdas Keuangan Nasional (Gencarkan) yang berfokus pada masyarakat di wilayah terpencil, tertinggal, dan terluar. Program ini akan berlanjut hingga akhir tahun di bawah pengawasan OJK,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Pegadaian juga mengenalkan investasi emas sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif aman dan mudah diakses. Mahasiswa diperkenalkan pada mekanisme investasi emas yang sederhana, mulai dari membeli, menyimpan dalam jangka waktu tertentu, hingga menjualnya saat harga meningkat. Investasi emas di Pegadaian juga dapat dimulai dari nominal Rp10.000 melalui aplikasi digital.
Selain mengedukasi soal literasi keuangan, Pegadaian menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan yang bersih dan transparan. Penyuluh Antikorupsi PT Pegadaian (Persero), Didik Bintoro Seputro, mengatakan pihaknya secara rutin melakukan pengawasan terhadap kepatuhan standar operasional prosedur (SOP) hingga ke tingkat outlet.
“Bidang tugas kami adalah melakukan monitoring kepatuhan terhadap SOP, memastikan seluruh prosedur benar-benar dijalankan. Hal itu akan langsung dirasakan nasabah, mulai dari tidak adanya pungutan liar hingga transparansi dalam layanan kredit,” ujar Didik.
Ia juga menegaskan bahwa investasi melalui Pegadaian memiliki tingkat keamanan yang tinggi karena perusahaan merupakan badan usaha milik negara (BUMN).
“Keamanan investasi melalui Pegadaian sangat terjamin karena platform kami merupakan milik pemerintah,” katanya.
Baca juga : KDM Perkuat Pemerataan Keuangan dan Pembangunan Ekonomi Berbasis Ekologi
Sementara itu, Asisten Manajer Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Edukasi Perlindungan Konsumen OJK Jawa Barat, Friska Magdalena, mengingatkan mahasiswa agar semakin bijak mengelola keuangan di era digital. Menurutnya, kemudahan akses teknologi dan layanan keuangan digital harus diimbangi dengan kemampuan mengelola risiko.
Friska menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO), Fear of Other People’s Opinion (FOPO), dan You Only Live Once (YOLO) yang dinilai mendorong perilaku konsumtif di kalangan generasi muda.
“Fenomena-fenomena ini mendorong seseorang melakukan impulsive buying atau pembelian secara impulsif,” ujar Friska.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan yang cerdas, tetapi juga mampu menjadi agen literasi keuangan di lingkungan sekitarnya sehingga masyarakat semakin terlindungi dari berbagai risiko keuangan digital.(alfandy/mag)




















