Penulis : Yanti Rusliyanti Farihah Rahmah
(Mahasiswa Pascasarjana STAI Al-Azhary Cianjur)
POJOKBANDUNG.COM, CIANJUR – Pendidikan adalah tentang masa depan, bagaimana menyiapkan generasi yang akan mengisi sebuah peradaban.

Yanti Rusliyanti Farihah Rahmah yang saat ini menjabat Kepala RA Persis No. 380 Al-Ittihad. Foto-foto:Dokumentasi Pribadi Yanti untuk Pojok Bandung
Pendidikan menjadi garda terdepan dalam membentuk manusia yang beradab, yang dapat mengelola bumi ini dengan bijak serta menjadi rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alaamiin).
Pendidikan agama memiliki peranan yang sangat penting dalam membina manusia yang berkarakter yang dapat memuliakan peradaban kelak, apapun kiprah mereka, nilai-nilai agama menjadi pondasi mereka dalam berbuat untuk kemaslahatan umat. Karena tujuan Pendidikan adalah menjadikan manusia menjadi ‘Insan Kamil’.
Pendidikan Islam Kontemporer merupakan upaya sistematis untuk mengembangkan potensi individu sesuai ajaran Islam dengan mengintigerasikan pengetahuan modern, teknologi, dan nilai-nilai mutakhir untuk menjawab tantangan zaman. Tujuannya adalah membentuk individu yang seimbang antara kecerdasan emosional, spiritual, psikomotorik, sosial dan intelektual, serta memiliki pondasi sebagai landasan moral yang kuat untuk menghadapi isu-isu global seperti liberalisme dan sekularisme. Pendidikan ini juga mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum dan memanfaatkan teknologi digital secara bijak untuk memperluas akses dan relevansi pembelajaran secara mendalam.
Filsafat Pendidikan Islam dalam konteks kontemporer menekankan integrasi nilai-nilai spiritual, moral, dan rasionalitas ilmiah untuk menjawab tantangan zaman modern. Pendekatan ini bertujuan ‘memanusiakan manusia’ yaitu mewujudkan manusia yang seimbang secara emosional, spiritual, psikomotorik, sosial dan intelektual namun tetap relevan dengan dinamika global saat ini.
Esensi Filsafat Pendidikan Islam Kontemporer
Al-Qur’an merupakan sumber utama dalam Filsafat Pendidikan Islam Kontemporer, sumber lainnya adalah hadist dan beberapa konsep tradisi intelektual klasik yang kemudian dikontekstualisasikan dengan realitas modern, yang memiliki ciri khas diantaranya : Bersifat holistic integrative, berorientasi pada nilai, bersifat kritis dan aplikatif dan berbasis fitrah.
Menurut para ahli filsafat Pendidikan Islam, secara umum menekankan pada integrasi nilai spiritual, moral dan rasionalitas ilmiah untuk membentuk individu yang seimbang. Para ahli seperti Ibn Khaldun dan K.H. Ahmad Dahlan menyoroti pentingnya hubungan antara ilmu dan iman. Pembelajaran berbasis kompetensi, serta integrasi teknologi dalam menghadapi tantangan modern. Jadi Filsafat ini berfokus pada pengembangan kepribadian Islam yang utuh (Insan Kamil) melalui proses pendidikan yang terencana dan sistematis.
Konsep utama para ahli Filsafat Pendidikan :
– Jhon Dewey : Dianggap sebagai salah satu figure paling berpengaruh dalam Pendidikan, ia menyatakan Pendidikan adalah ‘Penataan Ulang’. Pengalaman demi menciptakan individu yang lebih terarah dan bermakna. Konsep-konsepnya telah membentuk praktik Pendidikan manusiawi di berbagai tingkatan sekolah.
– Al-Faraby : Pemikirannya tentang Pendidikan terus relevan dan dibahas dalam konteks dunia kontemporer, menunjukkan bahwa gagasan-gagasan klasiknya masih memiliki nilai hingga kini.
– Ibn Khaldun : Dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan (sosiologi) dengan keimanan. Pemikirannya membantu pendidik dalam melihat masyarakat secara sistematis dan mempengaruhi corak Pendidikan Islam Kontemprer. Terutama melalui karyanya Muqoddimah.
– K.H. Ahmad Dahlan : Memberikan penekanan pada pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dan keimanan. Serta pengembangan metodologi pembelajaran berbasis kompetensi dan teknologi
– Haji Abdul Malik Karim dan Amrullah (Hamka) : Menganjurkan metode dakwah melalui ajakan atau pembelajaran yang baik (mau’izhatul hasanah), yang dapat menyentuh hati manusia dengan halus namun memberikan efek positif.
Relevansi dengan Pendidikan Kontemporer
– Penekanan pada pengalaman : Konsep Jhon Dewey tentang rekontruksi pengalaman masih sangat relevan, karena menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi aktif dengan lingkungan.
– Pendekatan Sosial : Pandangan Ibnu Khaldun tentang Pendidikan sebagai fenomena sosial membantu kita memahami peran Pendidikan dalam Masyarakat dan bagaimana ia membentuk individu sebagai bagian dari komunitas
– Pentingnya pemikiran kritis : Gagasan-gagasan Ibn Khaldun dan tokoh-tokoh filusuf lainnya menekankan pentingnya berfikir kritis dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, sebuah keterampilan esensial di era modern.
Tantangan dan Solusi Kontemporer
– Dualisme kurikulum : Mengatasi pemisahan antara kurikulum agama dan umum dengan menintegrasikannya
– Teknologi Digital : Memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai sarana efektif sambil mengantisipasi resiko seperti penyebaran informasi bias dan kecanduan digital melalui literasi digital Islami.
– Isu Ideologis : Menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat untuk untuk menangkal pengaruh ideologi asing seperti liberalisme dan sekularisme.
– Kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) : Peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta seluruh stekholder di dunia pendidikan dan Profesionalisme manajemen dalam lembaga Pendidikan Islam.
Pendidikan Berbasis Fitrah
Pendidikan Islam adalah manifestasi dari keinginan hidup manusia untuk melestarikan, mengalihkan, menanamkan dan mentransformasikan nilai-nilai manusia untuk melestarikan, mengalihkan dan mentransformasikan nilai-nilai Illahiyyah dan nilai-nilai manusia serta membekali peserta didik dengan kemampuan produktif agar mereka berfungsi dan berkembang seiring perkembangan zaman.
Menurut Hasan Langgulung, Fitrah adalah potensi yang baik. Hadist yang bermakna “Setiap anak dilahirkan secara fitrah.(Fadhilah & Tohopi, 2020). Hanya Ibu bapaknyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasroni atau Majusi”. Tetapi hal ini tidak bermakna bahwa manusia itu menjadi hamba kepada lingkungan, seperti pendapat ahli-ahli behaviorisme. Fitrah adalah sifat-sifat Tuhan yang ditiupkan Tuhan kepada semua manusia sebelum lahir, dan pengembangan sifat-sifat itu setinggi-tingginya. Senada dengan hal ini, menurut Dr. Jalaluddin, manusia memiliki potensi utama yang secara fitrah dianugrahkan Allah SWT kepadanya, yaitu sebagai berikut : (Septemiarti, 2023) : 1. Potensi Naluriyyah (Hidayat al-Gharizat), 2. Potensi Inderawi (Hidayatul al-Hassiyat), 3. Potensi Akal (Hidayat al-Aqliyyat). Dan 4. Potensi keagamaan (Hidayat al-Diniyyat).
Pendidikan Islam dimaksudkan untuk berpusat pada konsep ketauhidan. Ini dilakukan dengan tujuan untuk membangun hubungan yang kuat antara manusia dan Allah SWT. Apa saja yang diajarkan kepada anak didik tidak boleh bertentangan dengan nila-nilai tauhid. Dengan demikian, konsep tauhid ini harus ditekankan dalam kurikulum Pendidikan Islam berbasis Fitrah.
Namun meskipun manusia itu hanif atau cenderung percaya pada kebenaran, hal ini tidak menjamin bahwa mereka menjalani kehidupan yang benar. Fitrah adalah beriman, bertauhid dan beragama Islam. Dan fitrah merupakan potensi yang bukan hanya harus dijaga, namun juga harus dididik dengan tepat, karena sesuatu yang diluar diri manusia dapat mempengaruhi kehendak manusia untuk menjadi baik atau buruk. (Nursalim & Iskandar, 2021).
Fitrah berasal dari kata al-fathr, yang berarti syaq (belahan), dan dari kata al-khilqah, yang berarti naluriah, pembawaan, dan at-thabi’ah, yang berarti tabiat, watak, dan karakter yang diciptakan Allah SWT pada manusia. Makna seperti penciptaan dan kejadian dari manusia ini. Dalam kasus Dimana memiliki sifat dasar yang dianggap sebagai pembawaan jahat tersebut, dan manusia juga memiliki dua potensi yaitu akal (‘aql) dan kehendak bebas (nafs).
Dalam agama Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci, bersih, bebas dari segala dosa, dan cenderung menerima agama, iman dan tauhid. Bukan tabi’at alami yang menyebabkan orang menjadi baik atau buruk, tetapi pendidikan dan lingkungan bisa jadi berpengaruh terhadap perubahan fitrah mereka. Fitrah erat kaitannya dengan Pendidikan. Sebab, tujuan Pendidikan adalah untuk mengajarkan kebenaran yang sesuai dengan sifat Fitrah yang mencintai kebenaran. Oleh karena itu, Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang berfokus pada Fitrah itu sendiri dan mengandung nilai-nilai kebenaran, dengan Allah SWT sebagai pencipta Fitrah serta orangtua dan guru sebagai pendidik fitrah.
Filsafat Pendidikan Islam kontemporer merupakan jawaban sistematis dalam menanggulangi permasalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri, serta bisa memberikan solusi aplikatif dalam menghadapi tantangan liberalisme maupun sekularisme. Pendidikan Islam yang berbasis Fitrah, Dimana pendalaman pendekatan, metode, media serta berbagai ranah yang dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku akan dihadapkan dengan Pendidikan berbasis fitrah yang dimulai dengan memahamkan secara implusif dalam ketauhidan, kemudian pembiasaan beribadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan Rosul dan pada akhirnya akan mewujudkan karakter akhlak mulia dengan dimensi penguatan hati, akal dan amal yang simultan dan menjadikan manusia menjadi orang yang bertaqwa. Kurikulum berbasis Cinta yang telah dikeluarkan oleh Kementrian Agama juga merupakan Solusi aplikatif dalam memahamkan secara spesifik bagaimana cinta kepada Allah, Rosul, cinta Ilmu, cinta diri sendiri dan sesama manusia dan cinta lingkungannya. Pendekatan mendalam/ Deep Learning dalam hal ini mencakup Pendidikan yang harus ditanamkan secara berkesadaran, bermakna dan menyenangkan juga merupakan pendekatan yang tepat untuk memahami bahwa jika semua Pendidik, baik itu Orangtua maupun guru di sekolah memahami bahwa Fitrah adalah Naluri baik, maka untuk terus menjadikan manusia itu tetap baik adalah dengan terus memupuknya tetap baik dengan menjadi Uswatun Hasanah.
Wallahu ‘alam bishowab.


















