Menelusuri Sejarah Banjaran Kabupaten Bandung Lewat Riset Seniman Lukis Rio Genta

POJOKBANDUNG.COM, KABUPATEN BANDUNG – Bagi Rio Genta, Banjaran bukan sekadar wilayah di Kabupaten Bandung. Seniman lukis tersebut lahir dan tumbuh di Banjaran, sehingga perubahan wajah kawasan itu menjadi bagian dari ingatan masa kecilnya.
Sawah, bukit dan ruang terbuka yang dahulu akrab dengan kesehariannya kini banyak berubah menjadi kawasan pabrik, perumahan dan bangunan baru.
Ingatan tersebut kemudian mendorong Rio melakukan riset mengenai sejarah Banjaran. Ia mencoba membaca perubahan kawasan melalui lanskap yang pernah ia kenal sejak kecil, sekaligus menelusuri jejak agraris, perkebunan dan jalur transportasi yang pernah membentuk kehidupan masyarakat Banjaran.
“Waktu kecil saya masih melihat banyak sawah dan bukit. Ruang-ruang itu menjadi bagian dari ingatan saya tentang Banjaran. Sekarang ketika melihat lagi, banyak yang sudah berubah. Ada pabrik, perumahan dan bangunan-bangunan baru,” ujar Rio, Senin (21/9/2026).
Upaya Rio mengenalkan kembali hubungan masyarakat dengan lingkungannya juga diwujudkan melalui Bengkel Seni Angsoka di Banjaran.
Ruang tersebut menjadi tempat pembelajaran seni secara gratis bagi anak-anak, mulai dari seni lukis hingga musik.
Bengkel Seni Angsoka tidak hanya menjadi tempat anak-anak belajar membuat karya. Rio ingin proses belajar seni juga menjadi cara bagi anak-anak untuk mengenal dan memahami tanah Banjaran, termasuk lingkungan, lanskap dan perubahan yang terjadi di sekitar mereka.
“Saya ingin anak-anak di Banjaran tidak hanya belajar menggambar atau bermain musik. Mereka juga belajar memahami tanah tempat mereka hidup. Apa yang ada di sekitar mereka, bagaimana perubahan lingkungannya, dan cerita apa yang pernah ada di Banjaran,” katanya.
Menurut Rio, pendidikan seni dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah sebuah tempat kepada generasi muda. Sawah, bukit, bangunan, jalan maupun ruang yang berubah dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan Banjaran.
Secara historis, Banjaran tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kawasan agraris dan perkebunan Bandung Selatan pada masa kolonial. Salah satu jejak perkembangan perkebunan berada di kawasan Arjasari yang dibuka Rudolph Albertus Kerkhoven pada 1869.
Perkembangan perkebunan kemudian membutuhkan jaringan transportasi untuk menghubungkan kawasan produksi dengan pusat perdagangan. Banjaran masuk dalam jaringan kereta api Bandung Selatan dengan dibukanya Stasiun Banjaran pada 13 Februari 1921.
Jalur tersebut kemudian berkembang menuju Soreang dan Ciwidey. Jalur menuju Ciwidey diresmikan pada 17 Juni 1924 dan turut mendukung pergerakan manusia maupun komoditas dari kawasan Bandung Selatan.
“Kalau kita melihat Banjaran sekarang, mungkin yang terlihat adalah jalan yang ramai, perdagangan dan bangunan. Tetapi ada sejarah sebelum itu. Ada sawah, perkebunan, jalur kereta dan hubungan ekonomi yang membentuk kawasan ini,” ujar Rio.
Jalur Cikudapateuh-Dayeuhkolot-Banjaran-Soreang-Ciwidey kini sudah tidak beroperasi. Stasiun Banjaran tercatat berhenti beroperasi pada 1982. Sementara itu, lanskap Banjaran terus berubah seiring perkembangan perdagangan, industri dan permukiman.
Bagi Rio, perubahan Banjaran tidak harus dipahami sebagai upaya mengembalikan kawasan seperti masa lalu. Ia justru ingin perubahan tersebut dikenali sebagai bagian dari sejarah yang perlu dipahami generasi sekarang.
Melalui riset dan Bengkel Seni Angsoka, ia mencoba mempertemukan seni, ingatan dan lingkungan agar anak-anak memiliki cara untuk membaca tanah tempat mereka tumbuh.
“Saya tidak sedang ingin mengatakan Banjaran yang dulu lebih baik daripada sekarang. Saya hanya ingin memahami perubahan yang terjadi. Karena ketika lanskap berubah, sebenarnya ada banyak cerita dan ingatan yang ikut berubah,” tutur Rio. (kus)

loading...

Feeds