Menilik Rumah Tanah Ramah Lingkungan Milik Misbah di Kota Cimahi

Pemilik rumah tanah, Misbah (42), berdiri di depan bangunan yang ramah lingkungan di Jalan Pesantren RT 02/RW 08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Minggu  (6/9/2026). Foto : Alfandy Septiansyah Putra/radarbandung.id/pojokbandung.com

Pemilik rumah tanah, Misbah (42), berdiri di depan bangunan yang ramah lingkungan di Jalan Pesantren RT 02/RW 08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Minggu (6/9/2026). Foto : Alfandy Septiansyah Putra/radarbandung.id/pojokbandung.com

POJOKBANDUNG.COM, KOTA CIMAHI – Di Jalan Pesantren, RT 02/RW 08, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, rumah dua lantai yang tak biasa berdiri. Dinding yang bukan berasal dari bata atau beton, melainkan tanah dengan menggunakan kerangka bambu yang dibangun perlahan hingga berdiri kokoh.

‘Rumah Tanah’, itulah sebutan nama yang diberikan oleh Misbah Dwiyanto (42), pemilik dari rumah ramah lingkungan tersebut bersama dengan istrinya. Bicara soal Rumah Tanah, tidak bisa lepas dari cerita yang jauh lebih panjang. Bangunan ini bukan proyek arsitektur yang dibangun bukan untuk sekedar mengejar trend unik, melainkan lahir dari sebuah filosofi hidup yang sudah dijalani Misbah lebih dari satu dekade sebelumnya.

Jauh sebelum bangunan itu berdiri, Misbah mengungkapkan dengan istrinya lebih dulu membangun sebuah kebun. Sekitar tahun 2014 hingga 2015, ia mulai merintis kebun permakultur mini di tengah ruang urban Cimahi.

“Rumah tanah ini itu berdiri atas respon dari kebun ini, jadi tempat tinggal saya dan kebun ini sebenarnya adalah kebun permakultur, saya sangat mempunyai keinginan untuk membangun ruang hijau yang mulai di tengah kehidupan masyarakat urban,” kata Misbah saat ditemui dipekarangan rumahnya, Minggu (6/9/2026).

Misbah mengatakan dirinya menggagas kebun itu bukan sekedar sebagai halaman rumah biasa, tapi ia memiliki tujuan untuk membuka ruang edukasi untuk masyarakat luas agar bisa menjaga lingkungan dan melestarikannya.

“Untuk kebun itu saya bersama istri saya mempunyai tujuan agar bisa dimanfaatkan sebagai ruang edukasi atau belajar, mengenai betapa pentingnya menjaga lingkungan disekitar kita,” katanya.

Misbah menjelaskan hingga kini, kebun tersebut menjalankan tiga fungsi sekaligus bagi keluarganya yaitu, tempat tinggal, sumber pangan, dan ruang edukasi publik.

“Kita rutin mengundang anak-anak sekolah untuk mengenalkan soal pangan dan pentingnya menjaga lingkungan, kami juga juga ingin memberi andil untuk bisa memberikan ruang hijau di tengah Kota Cimahi ini,” tambahnya.

Misbah juga mengaku sebelum membangun rumah tanah, ia mengungkapkan dirinya sempat menjadi volunteer di Thailand bersama dengan komunitasnya Pun-Pun, tepatnya di sebelah utara Thailand, Kota Chiang Mai. Disitulah ia pertama kali belajar tentang rumah tanah yang setelah itu ia mencoba sendiri membangun rumah ramah lingkungan tersebut saat pulang ke Indonesia di lahan miliknya di Cimahi.

“Sebelum saya ngebangun rumah tanah disini, saya pernah jadi volunteer di Thailand bareng sama teman-teman komunitas. Kita disana bareng-bareng belajar bagaimana sih cara membangun rumah tanah yang baik dan benar lalu kita bawa ilmunya dan nyoba merealisasikan di lahan milik sendiri,” kata Misbah.

Dirinya menambahkan proses pembangunan rumah tersebut menjadi kolektitifitas dari yang ia bayangkan. Selain keluarganya, Misbah mengaku dibantu oleh para arsitek muda yang datang jauh dari Australia untuk mengamati dan belajar.

“Saat proses pembangunan juga kan, yang terlibat bukan hanya saya, tapi mulai dari perempuan, anak-anak, jadi banyaklah. Prosesnya juga menyenangkan terasa kayak lagi main rumah-rumahan jadi anak-anak juga pasti senang selain bermain tapi juga sekalian belajar sedikit-sedikit, jadi ada proses interaksi juga kan yang udah jadi budaya kita yaitu gotong royong,” ujarnya.

Secara teknis proses pembangunan rumah tanah tidak jauh berbeda seperti membangun rumah biasa yang menggunakan bata atau semenn. Dimulai dari membuat sampel, yang bertujuan untuk mengetahui campuran yang cocok dan sesuai untuk tanah yang akan dipakai. Campuran yang dipakai Misbah adalah tambahan pasir dan jerami. Namun, Misbah mengatakan bahwa hal yang tak kalah penting dari prosesnya adalah kerangka, dimana ia menggunakan bambu yang khusus untuk membangun rumah tersebut, dan setelah itu, bambu akan dilapisi oleh tanah hingga membentuk dinding.

“kalau untuk proses teknisnya itu ngga jauh beda ya sama rumah biasa, jadi sebelumnya kita harus tau dulu nih campuran yang bagus untuk tanahnya biar makin kokoh nantinya, kalau saya sesuai dengan yang saya pelajari, saya pakai pasir sama jerami jadi tanah bakal kuat dan padat ngga gampang retak,” jelasnya.

Yang membuat rumah tanah ini nyaman untuk ditinggali, menurut Misbah adalah sifat dinding berasal dari tanah yang mempunyai karakter thermal mass yaitu penyerapan panas yang di lepaskan secara pelan.

“Karena rumah tanah kan pasti lebih adem dibanding rumah-rumah dari tembok bata, jadi saya pasti menghemat biaya juga jadi ngga perlu masang ac atau kipas angin, jadi tanah itu punya karakter yang melepaskan panas secara delay, jadi saat siang panas matahari diserap lalu biasanya dilepasnya itu saat malam hari, jadi ketika cuaca lagi dingin itu pasti rumah bakal terasa hangat karena pelepasan panas yang tadi itu,” tambah Misbah.

Namun, kenyamanan bukanlah satu-satunya yang ia kejar, Misbah mengaku dirinya berupaya untuk membangun rumah dengan jejak karbon yang rendah yang sangat berpengaruh pada tingkat polusi pada lingkungan.

“Selain kenyamanan saya itu memang ingin membangun rumah dengan karbon yang minim, jadis setidaknya dengan saya membangun rumah ramah lingkungan ini, saya tidak terlalu banyak menyumbang polusi,” masih katanya.

Dengan upayanya dalam menjaga lingkungan, Misbah berharap ke depannya, para akademisi atau bahkan profesional tertarik untuk melakukan riset lebih jauh tentang konsep rumah tanah. Rumah tanah sendiri sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru, rumah tanah sudah dipraktikan oleh para pendahulu kita mungkin seribu tahun yang lalu. Jadi Misbah hanya mencoba mengenalkan kembali kegenerasi sekarang.

“Ya mudah-mudahan banyak lah yang meriset tentang rumah tanah ini, khususnya di Indonesia, karena jujur di luar negeri itu udah banyak tapi mungkin yang sata tahu di Indonesia belum terlalu banyak,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah kota bisa lebih mendukung aktivitas semacam ini, walaupun berasal dari ruang pribadi, Misbah mengatakan dirinya siap jika harus bekerja sama dengan Pemkot Cimahi untuk membangun ruang hijau yang kini sudah mulai tergerus beriring berkembangnya zaman.

“Saya juga siap kalau pemerintah kota ingin bekerjasama, karena itu juga menjadi harapan saya juga, semoga semakin banyaklah yang datang untuk belajar, dari semua kalangan, agar mereka tahu betapa pentingnya lingkungan yang sudah berperan penting bagi kita sebagai manusia untuk menjalankan kehidupan,” tandasnya. (asp/job)

loading...

Feeds