POJOKBANDUNG.COM, RIYADH – Saat para menteri luar negeri G7 menuntut Iran tak lagi mempersenjatai dan mengakhiri dukungan kepada Houthi, Inggris dan Amerika Serikat (AS) justru menawarkan dukungan militer kepada Arab Saudi. Situasi konflik antarkedua pihak tersebut pun semakin memanas.
G7 terdiri atas tujuh negara maju di dunia: AS, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Jepang. Dikutip dari BBC kemarin (22/9), dalam pernyataan tertulis bersama, G7 juga mengecam keras serangan Houthi ke Saudi yang mendukung pemerintahan di Yaman. “Meningkatnya eskalasi itu ancaman terhadap keamanan regional dan global,” bunyi pernyataan bersama para menteri luar negeri G7.
Sementara itu, pertempuran di Yaman meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah kelompok Houthi meningkatkan serangan terhadap pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi. Eskalasi tersebut juga memicu serangan lintas perbatasan dan membuat lebih dari 120 ribu warga Yaman mengungsi.
Dilansir dari ABC News, perang saudara itu telah berlangsung lama. Sebelumnya PBB berhasil memediasi dan terjadi gencatan senjata pada 2022.
Namun, dampak terbesar dari eskalasi ini dirasakan oleh warga sipil. Al Jazeera melaporkan, bahwa eskalasi terbaru terjadi setelah periode relatif tenang yang sebagian besar berlangsung sejak gencatan senjata PBB pada 2022.
Houthi merupakan kelompok yang bersekutu dengan Iran. Pergerakan pasukan Houthi bahkan telah mencapai wilayah yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur penting distribusi minyak dunia.
Perkembangan tersebut membuat Arab Saudi meminta bantuan militer dari Inggris. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan, negaranya menyetujui permintaan Riyadh untuk memberikan dukungan pertahanan udara.
“Kami menerima permintaan dari Arab Saudi untuk dukungan militer dan saya menyetujui permintaan tersebut untuk pengisian bahan bakar udara-ke-udara defensif,” kata Burnham.
Dikutip dari The Guardian, Inggris akan mengerahkan pesawat RAF Voyager untuk membantu mengisi bahan bakar jet tempur Arab Saudi selama beberapa pekan. Dukungan tersebut ditujukan untuk membantu Arab Saudi mempertahankan infrastruktur energinya dari serangan Houthi.
Dukungan Inggris tersebut menambah keterlibatan militer negara Barat dalam konflik Yaman. Inggris sebelumnya juga telah menempatkan sistem pertahanan udara Sky Sabre di kawasan tersebut.
Sebelumnya AS juga telah menyetujui potensi penjualan 48 unit jet tempur siluman F-35 ke Saudi dengan nilai sekitar US$ 24,3 miliar atau setara Rp 431,5 triliun.
Posisi Strategis
Selat Bab al-Mandab memiliki posisi strategis bagi Saudi karena menjadi jalur alternatif pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Gangguan terhadap jalur perdagangan dan energi oleh kelompok Houthi berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap kondisi ekonomi global.
Dalam pernyataan bersamanya, G7 mendesak Houthi segera menghentikan seluruh aksi militer, ancaman, serta serangan terhadap pelayaran sipil. Mereka juga meminta kelompok tersebut kembali ke proses politik.
Dilansir dari Saudi Gazette, negara G7 dengan tegas mendukung Yaman. Mereka menyebutkan, komitmen untuk menjaga kemerdekaan dan integritas Yaman.
Kondisi terbaru menunjukkan konflik Yaman kembali memasuki fase berbahaya. Di satu sisi, serangan Houthi terhadap Arab Saudi terus menjadi sorotan negara-negara G7. Di sisi lain, meningkatnya dukungan militer untuk Riyadh berpotensi memperluas keterlibatan negara asing dalam konflik yang telah berlangsung lama. (lyn/ttg/Jawa Pos)




















