Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) menggelar diskusi bertajuk “Pentingnya Toolkit Komunikasi untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat terkait Program Kang Pisman di Kota Bandung”.
Kegiatan berlangsung Kamis, 18 Desember 2025 pukul 14.00–15.30 WIB di Ruang Rapat DLH Kota Bandung, Jl. Sadang Tengah No.4–6, Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Forum ini diikuti pegawai DLH yang bertanggung jawab pada sosialisasi dan kampanye Kang Pisman, yakni Ardhan, S.Ds. (Program Data dan Informasi), Vitriara Ahsana Nadya (Staf Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3), serta Rangga Sucipto (Program Data & Informasi).
Diskusi dipandu Dr. Nur Atnan, S.I.P., M.Sc. selaku ketua tim abdimas, didampingi Ayub Ilfandy Imran, B.Sc., M.Sc., Ph.D. dan M. Al Assad Rohimakumullah, S.I.Kom., M.I.Kom.
Pertemuan membahas satu agenda utama: merumuskan kebutuhan toolkit komunikasi yang siap pakai agar pesan Kang Pisman lebih konsisten, relevan, dan mudah diterapkan di level kewilayahan. Toolkit juga memuat indikator monitoring–evaluasi ringan agar DLH dapat menilai respons publik dan memperbaiki pesan secara berkala.
Urgensinya berangkat dari kondisi kota padat dengan tekanan layanan persampahan tinggi. Saat hilir terganggu—misalnya akibat pembatasan ritase atau kapasitas TPA—penumpukan sampah dapat cepat terjadi. Karena itu, penguatan intervensi dari sumber (rumah tangga dan komunitas) menjadi kunci, dan komunikasi publik diposisikan sebagai pengungkit utama perubahan kebiasaan.
Ardhan menekankan bahwa kampanye yang efektif harus berbasis data dan indikator sederhana. Menurutnya, “angka kunci perlu dipahami sebelum kampanye perilaku”, lalu diterjemahkan menjadi ajakan yang spesifik dan terukur. Ia mendorong agar pesan Kang Pisman tidak berhenti di “edukasi umum”, melainkan memandu tindakan harian: memilah, mengurangi, dan memanfaatkan, dengan contoh praktis yang dekat dengan keseharian warga.
Vitriara menggarisbawahi tantangan implementasi di lapangan. Ia melihat partisipasi rumah tangga belum merata dan sering bergantung pada momentum kampanye sesaat. Hambatan yang berulang, kata dia, adalah kebingungan aturan pemilahan, anggapan repot, dan minimnya fasilitas pendukung.
Karena itu, materi komunikasi perlu menggunakan bahasa yang membumi, visual yang rapi, serta call-to-action yang jelas, sehingga tidak memunculkan tafsir yang berbeda-beda.
Rangga menambahkan bahwa dinamika bank sampah dan KBS (Kawasan Bebas Sampah) berbeda antar-kelurahan. Ia menilai pesan harus “satu narasi” namun lentur untuk konteks kewilayahan.
“Perlu SOP produksi–kurasi–publikasi agar respons isu cepat dan seragam,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa alur kerja yang tertata, konten bisa tidak konsisten, terlambat merespons isu, atau terlalu bergantung pada individu.
Ketua tim abdimas, Dr. Nur Atnan, menegaskan inti persoalan perubahan perilaku: “Masalah utamanya bukan sekadar ‘tahu’, tetapi ‘mau dan terbiasa’.”
Ia menjelaskan bahwa Kang Pisman adalah gerakan dari hulu yang menuntut repetisi pesan dan konsistensi antar-kanal. Karena itu, tim menawarkan “Toolkit Komunikasi Kang Pisman yang standar, editable, dan berbasis perilaku (CBSM)”, agar DLH dan jejaring kewilayahan memiliki rujukan yang sama.
Ayub Ilfandy Imran memaparkan pendekatan Community-Based Social Marketing (CBSM) yang diringkas menjadi tiga langkah: diagnosa cepat, arsitektur pesan dan kanal, serta produksi toolkit. Pada tahap arsitektur, tim menyiapkan message map, gaya bahasa/visual, peta kanal, dan kartu respons isu/mitos.
“Standardisasi pesan dan visual penting supaya ajakan pemilahan lebih mudah diikuti dan tidak berubah-ubah,” katanya.
Sementara itu, M. Al Assad Rohimakumullah menekankan bahwa toolkit harus sekaligus menjadi “sistem kerja”. Ia menyoroti pentingnya alur “produksi–kurasi–persetujuan–publikasi” agar respons cepat, tetap satu suara, dan kualitas konten terjaga, terutama saat muncul isu atau misinformasi di ruang digital.
Melalui diskusi ini, DLH dan Telkom University menargetkan keluaran utama berupa “toolkit komunikasi (editable) + message map + SOP publikasi + paket konten inti” untuk kebutuhan online maupun offline—mulai dari template poster, infografik, spanduk TPS, stiker label, door hanger, hingga bank caption. Di akhir forum, Dr. Nur Atnan menutup dengan ajakan, “Mari wujudkan kebiasaan Kang Pisman sebagai budaya harian warga Bandung.”



















