Tekan Angka Stunting, BKKBN Optimalkan Peran Tim Pendamping

Deputi KBKR BKKBN Republik Indonesia, dr. Eni Gustina

Deputi KBKR BKKBN Republik Indonesia, dr. Eni Gustina

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Angka prevalensi stunting di Jabar hingga tahun 2021 mengalami penurunan cukup signifikan dari 31,5 persen pada 2018, angka stunting Jabar kini berada di angka 24,5 persen.

Namun angka prevalensi ini terbilang cukup tinggi mengingat jumlah penduduk Jabar merupakan yang terbesar atau sekitar lebih dari 15% dari jumlah penduduk se-Indonesia.

Deputi KBKR BKKBN Republik Indonesia, dr. Eni Gustina menyebut, jumlah angka di Jabar mendekati nasional yakni di 24,4 persen, ia pun menarget hingga akhir 2024 Jawa Barat nantinya berada di 13,96 persen.

“Masih ada empat zona merah di Jabar yang memiliki angka stunting tertinggi, yakni Kabupaten Garut, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cirebon. Sementara ada dua yang sudah zona hijau yakni Kota Depok dan Kota Bekasi, sisanya berada di zona kuning angka stunting,” jelasnya kepada wartawan di Kota Bandung, Jumat (11/3/2022).

Untuk menjaga disparitas antar wilayah di Jawa Barat beberapa upaya akan dilakukan, seperti menggerakan tim pendamping melihat cikal bakal keluarga beresiko. Ada tiga khusus yang diberikan kepada tim pendamping, seperti memberikan edukasi, memfasilitasi pelayanan kesehatan dan memfasilitasi bantuan dari pemerintah.

Menurutnya, dengan jumlah penduduk di Jawa Barat yang banyak, maka perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi secara langsung. Dimana ujung tombaknya merupakan Walikota dan Bupati di masing-masing kota/kabupaten.

Ia mengakui, beberapa faktor terjadinya angka stunting karena lingkungan keluarga serta ekonomi. Sehingga dibutuhkannya tim pendamping keluarga untuk mendata dan memastikan tidak 4T (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak dan terlalu sering) untuk mencegah anak lahir dalam keadaan stunting.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jabar Atalia Praratya Ridwan Kamil mengungkapkan, Jabar mengerahkan 1,4 juta kader PKK untuk mendampingi keluarga dalam menangani stunting. Atalia juga menambahkan, salah satu gebrakan dalam memerangi stunting di Jabar adalah peran Pos Yandu yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, khususnya ibu-ibu dan balita.

“Peran Pos Yandu juga sangat penting sebagai garda terdepan percepatan zero stunting di Jabar. Kami juga mempunyai jejaring dengan kurang lebih 52 ribuan Pos Yandu, yang merupakan garda terdepan dalam menuntaskan kasus-kasus stunting,” ucap Atalia yang juga Wakil Ketua Tim Penurunan Stunting Jabar.

Tak hanya itu, untuk mengejar target Jabar zero stunting pada 2023, PKK Jabar bersama BKKBN dan bidan desa telah membentuk Tim Pendamping Keluarga. Atalia berharap, tim yang anggotanya mencapai  37 ribu orang ini mampu menjangkau sasaran keluarga lebih dekat.

“Tim ini berasal dari kader PKK, kader KB dan bidan desa dengan harapan menjangkau lebih dekat keluarga sasaran,”  sebutnya.

loading...

Feeds