Di Balik Trofi Piala Presiden 2026, Persib Bandung Gagal Juara

Penyerang Persib Bandung, Uilliam Barros terlibat duel di udara dengan bek Persebaya Surabaya, Yuran Fernandes dalam pertandingan puncak final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (06/08/2026).Foto : Dok Media Piala Presiden 2026

Penyerang Persib Bandung, Uilliam Barros terlibat duel di udara dengan bek Persebaya Surabaya, Yuran Fernandes dalam pertandingan puncak final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (06/08/2026).Foto : Dok Media Piala Presiden 2026

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Peluit panjang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, tak hanya menandai berakhirnya pertandingan antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya pada final Piala Presiden 2026 yang dimenangkan tim asal Kota Pahlawan melalui drama adu penalti.

Kekalahan dari Persebaya tidak terlalu menyakitkan. Karena tujuan awal mengikuti Piala Presiden, Persib tidak menargetkan juara. Turnamen ini ibarat ajang pemanasan bagi Persib yang baru dua pekan menjalani sesi latihan bersama sejumlah pemain baru.  Bobotoh—sebutan pendukung Persib—antusias menyaksikan bagaimana performa top skor Liga Montenegro Balsa Sekulic, dan legenda Dinamo Zagreb Luka Menalo.

Ditambah lagi dua pemain jebolan Liga Thailand Gabriel Mutombo dan Gakuto Notsuda duo asing yang jadi warna baru di skuad Igor Tolic.  Suksesor Bojan Hodak ini mengungkapkan seberapa penting turnamen Piala Presiden 2026 bagi Persib musim ini.

“Begitu anda melangkah ke lapangan dengan jersey Persib, maka pertandingan itu menjadi penting. Jadi, tak ada pertandingan yang tidak penting. Kami tidak menganggap ada pertandingan yang tidak penting,” ujar Tolic

Di balik perebutan trofi, tersimpan cerita yang lebih besar tentang bagaimana sepak bola Indonesia sedang membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan, menjunjung tinggi sportivitas, menghadirkan hiburan bagi masyarakat, sekaligus menggerakkan roda ekonomi. Piala Presiden lahir bukan sekadar sebagai turnamen pramusim. Dalam perjalanannya, ajang ini berkembang menjadi etalase sepak bola nasional. Klub-klub memanfaatkannya untuk mengukur kekuatan sebelum kompetisi resmi, pemain menjadikannya panggung pembuktian, sementara masyarakat menikmati pertandingan sebagai hiburan yang menyatukan berbagai kalangan.

Pada edisi 2026, nilai-nilai tersebut kembali diuji. Sejak awal penyelenggaraan, Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait, menjadikan transparansi sebagai fondasi utama turnamen. Menurutnya, kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui tata kelola yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Nomor satu, benar-benar transparan. Jadi, kami diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor yang levelnya internasional,” ujar Maruarar.

Ia juga menegaskan bahwa penyelenggaraan Piala Presiden tidak membebani anggaran negara.

“Yang kedua, kami tidak menggunakan uang negara,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan bahwa industri sepak bola Indonesia mulai bergerak menuju penyelenggaraan yang lebih profesional. Transparansi tidak hanya diwujudkan melalui audit independen, tetapi juga melalui kepercayaan sponsor yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Komitmen itu kemudian diikuti dengan perhatian terhadap ekonomi kerakyatan. Maruarar mengatakan Piala Presiden tidak hanya bertujuan menghadirkan pertandingan berkualitas, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang.

“UMKM-nya ada dua jenis, yang sudah dikenal dan yang sedang berkembang supaya ada dampak dari Piala Presiden ini,” ujarnya.

Profesionalisme juga terlihat di atas lapangan. Persib Bandung dan Persebaya Surabaya melangkah ke partai puncak setelah melewati persaingan yang ketat. Final menjadi ajang pembuktian kualitas dua klub besar yang sama-sama membawa ambisi mengangkat trofi.

Dalam pertandingan sebesar final, tensi tinggi merupakan hal yang wajar. Namun, semangat fair play menjadi nilai yang tidak boleh hilang. Para pemain dituntut menghormati keputusan wasit, menjaga sportivitas, dan menyelesaikan pertandingan melalui kemampuan terbaik mereka. Fair play bukan hanya soal menghindari pelanggaran, melainkan menjaga marwah sepak bola sebagai olahraga yang menjunjung integritas.

Bagi Persib Bandung, final menjadi tolok ukur kesiapan skuad asuhan Igor Tolic menjelang bergulirnya kompetisi musim 2026/2027. Di sisi lain, Persebaya berhasil membuktikan proses pembinaan dan pembangunan tim yang mereka jalankan mampu berujung pada prestasi dengan menjuarai Piala Presiden 2026.

Meski partai final berlangsung tanpa kehadiran penonton di stadion, Piala Presiden tetap menjalankan fungsinya sebagai hiburan rakyat. Jutaan masyarakat menyaksikan pertandingan melalui layar televisi maupun platform digital. Warung kopi, rumah makan, hingga ruang keluarga berubah menjadi tempat berkumpul menikmati pertandingan. Maruarar Sirait mengatakan sejak awal harga tiket Piala Presiden juga dibuat terjangkau agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati pertandingan.

“Tiketnya Rp50 ribu sehingga benar-benar menjadi hiburan rakyat karena terjangkau, aman, dan masyarakat bisa menikmati pertandingan,” ujarnya.

Besarnya antusiasme masyarakat juga tercermin dari data siaran televisi. Direktur SCM, Harsiwi Achmad, mengungkapkan hasil survei Nielsen menunjukkan rata-rata rating Piala Presiden 2026 mencapai 4,2 persen dengan audience share sebesar 23,9 persen. Artinya, hampir seperempat masyarakat yang sedang menonton televisi pada jam pertandingan memilih menyaksikan Piala Presiden.

Menurut Harsiwi, capaian tersebut menjadikan Piala Presiden sebagai program televisi dengan jumlah penonton tertinggi di Indonesia, mengungguli berbagai tayangan olahraga maupun hiburan lainnya. Bahkan pertandingan Persebaya Surabaya melawan Persija Jakarta mencatat rating hingga 7, angka yang selama ini belum pernah dicapai pertandingan Liga 1 dan hanya mampu disaingi laga Timnas Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Piala Presiden tidak hanya terasa di dalam stadion. Jangkauan siaran yang luas menghadirkan manfaat ekonomi bagi banyak pihak. Sponsor memperoleh eksposur yang tinggi, industri penyiaran mencatat peningkatan jumlah penonton, sementara pelaku UMKM seperti pedagang makanan, minuman, hingga penjual atribut klub ikut menikmati meningkatnya aktivitas ekonomi selama turnamen berlangsung. Inilah wajah ekonomi kerakyatan yang sering luput dari perhatian. Sepak bola tidak hanya melahirkan juara di lapangan, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan menghidupkan roda ekonomi masyarakat.

Piala Presiden 2026 memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya diukur dari siapa yang mengangkat trofi. Lebih dari itu, keberhasilan lahir ketika penyelenggaraan mampu menjaga transparansi, menjunjung fair play, melahirkan prestasi, menjadi hiburan rakyat, dan menghadirkan manfaat ekonomi yang dirasakan secara luas. Pada akhirnya, trofi memang hanya menjadi milik Persebaya Surabaya. Namun, apabila nilai-nilai tersebut terus dijaga, maka kemenangan sesungguhnya adalah milik sepak bola Indonesia. (pra)

loading...

Feeds