Kota Bandung Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Warga Tak Hanya Andalkan Pemerintah saat Darurat

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Lima Kampung Siaga Bencana kini terbentuk di Kota Bandung, menyasar wilayah yang berpotensi terdampak aktivitas Sesar Lembang. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan mendorong masyarakat menjadikan mitigasi sebagai budaya sehari-hari. Langkah yang dinilai mendesak mengingat sekitar 62 persen wilayah kecamatan di Kota Bandung masuk kawasan yang berpotensi terdampak aktivitas Sesar Lembang.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan kesiapsiagaan bencana tidak boleh berhenti pada aspek teknis atau hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Budaya siaga harus tumbuh di tengah masyarakat agar warga mampu bertindak cepat dan tepat ketika kondisi darurat terjadi.
Farhan mengatakan posisi Kota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat membuat dampak bencana yang terjadi di wilayahnya berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat dalam skala yang lebih luas. Karena itu, upaya mitigasi harus dibangun sejak dini melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat,” ujar Farhan, Minggu (2/8/2026).
Farhan menjelaskan budaya siaga bencana dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, mengenali titik evakuasi, memahami prosedur penyelamatan diri, hingga memiliki kesadaran untuk membantu sesama ketika terjadi keadaan darurat. Kebiasaan dinilai akan mempercepat proses penyelamatan sekaligus mengurangi risiko korban.
Farhan mengungkapkan nilai gotong royong yang telah lama menjadi karakter masyarakat Indonesia merupakan modal utama dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Semangat saling membantu harus terus dipelihara agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya kepada pemerintah saat kondisi darurat.
Farhan menilai menjaga Kota Bandung dari risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, masyarakat diminta tidak terjebak pada pola pikir individualistis yang hanya menunggu tindakan pemerintah ketika bencana terjadi.
“Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa. Tugas menjaga kota ini bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat,” katanya.
Farhan menyebut partisipasi warga dapat diwujudkan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan, mulai dari RT, RW, PKK, Posyandu, Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Taruna Siaga Bencana (Tagana), hingga Kampung Siaga Bencana yang telah dibentuk di sejumlah wilayah Kota Bandung.
Farhan juga mengingatkan masyarakat agar lebih mengutamakan tindakan nyata saat menghadapi bencana dibanding sekadar mendokumentasikan peristiwa. Kecepatan memberikan pertolongan kepada korban jauh lebih penting dibanding merekam kejadian untuk disebarkan di media sosial.
“Warga jaga warga bukan sekadar slogan. Itu adalah kesepakatan hati untuk saling menjaga dan saling membantu ketika menghadapi berbagai persoalan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa mengatakan pembentukan Kampung Siaga Bencana merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menitikberatkan pada mitigasi serta kesiapsiagaan berbasis masyarakat.
Yorisa mengungkapkan hasil pemetaan menunjukkan sebanyak 20 dari 30 kecamatan di Kota Bandung atau sekitar 62 persen wilayah memiliki potensi terdampak aktivitas Sesar Lembang. Kondisi yang menjadi dasar pemerintah memperluas pembentukan Kampung Siaga Bencana di kawasan yang dinilai rawan.
Menurutnya, hingga kini Kota Bandung telah memiliki lima Kampung Siaga Bencana yang berada di Kecamatan Mandalajati, Ujungberung, Cidadap, Sukasari, dan terbaru Kecamatan Coblong. Setiap kampung dilengkapi Gardu Sosial, pusat informasi dan koordinasi kebencanaan, Lumbung Sosial untuk penyimpanan logistik darurat, personel Tagana, serta berbagai sarana pendukung penanganan bencana.
Yorisa berharap keberadaan Kampung Siaga Bencana mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pilar sosial sehingga kesiapsiagaan warga semakin meningkat.
“Sistem yang terencana, terstruktur, dan berkelanjutan, risiko bencana di Kota Bandung diharapkan dapat ditekan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat ketika menghadapi situasi darurat,” ujar Yorisa.(dsn)

loading...

Feeds