Oleh : Ilmi Rahayu Apriyani
POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Di tengah situasi ekonomi yang kian menantang saat ini, mencari mata pencaharian yang layak bukanlah perkara mudah.
Minimnya lapangan pekerjaan yang sebanding dengan melambungnya harga kebutuhan pokok harian kerap menyudutkan masyarakat kelas bawah dalam posisi serba salah. Ketika dapur harus tetap ngebul, biaya sekolah anak tak bisa ditunda, dan kebutuhan mendesak terus melilit, mencari pinjaman kilat sering kali dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar paling realistis. Bagi sebagian besar ibu rumah tangga yang terdesak keadaan, kemudahan yang ditawarkan oleh bank emok akhirnya hadir mengambil peran sebuah tawaran manis yang di satu sisi menjadi penyelamat sesaat, tetapi di sisi lain menyimpan potensi masalah finansial yang jauh lebih besar.
Bank emok atau perkumpulan simpan-pinjam berbasis kelompok yang didominasi para ibu rumah tangga memang hadir sebagai penyelamat instan di tengah sulitnya mendapatkan bantuan keuangan.
Prosedurnya sangat sederhana dan jauh dari kata rumit; tanpa perlu jaminan aset seperti BPKB atau sertifikat rumah, dana segar bisa langsung cair hanya dalam hitungan hari. Prosesnya pun tergolong unik, di mana para nasabah cukup mengumpulkan kelompok dan duduk lesehan (emok) bersama petugas di salah satu rumah warga. Bagi masyarakat kelas bawah yang sedang terdesak kebutuhan, kemudahan serta kepraktisan perkumpulan ini seolah menjadi jalan keluar paling cepat untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Di sisi lain, bank emok ini mengusung sistem tanggung renteng yang sangat memberatkan. Ketika satu orang sudah kesusahan untuk membayar cicilannya sendiri, ia masih dituntut untuk menutupi tunggakan anggota lain dalam kelompoknya. Hal ini mengakibatkan beban finansial yang kian melipat ganda. Para ibu yang sebenarnya sudah kesulitan memenuhi kebutuhan harian terpaksa mengambil pinjaman baru di tempat lain hanya demi menutupi kewajiban kelompok tersebut sebuah jerat hutang beruntun yang kian mencekik ekonomi rumah tangga.
Sayangnya, kemudahan di awal kerap berujung sengsara di akhir. Ketika masa tenggat tiba, tidak sedikit anggota perkumpulan ini yang akhirnya kewalahan dan gagal membayar angsuran mingguan yang terhitung lumayan berat.
Jika ditelisik lebih dalam, krisis ini berakar pada ketidakstabilan pendapatan rumah tangga. Banyak kasus terjadi karena sang suami tidak memiliki pekerjaan tetap, atau bahkan enggan mengambil kesempatan kerja harian yang ada di sekitar mereka. Akibatnya, beban finansial keluarga bergeser penuh ke pundak para istri. Dalam posisi terdesak demi menyambung hidup dan menutupi kebutuhan dapur, para ibu rumah tangga ini terpaksa mengambil jalan pintas berhutang tanpa sempat memperhitungkan secara matang bagaimana cara melunasinya kelak.
Fenomena ini sangat terasa di daerah saya, khususnya di sekitar wilayah Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Maraknya bank emok yang merambah pemukiman warga seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah setempat. Hadirnya fenomena ini bukan semata-mata karena warga gemar berhutang, melainkan cerminan nyata dari minimnya alternatif jalan keluar ekonomi dan terbatasnya akses permodalan yang ramah bagi rakyat kecil.
Di sisi lain, masalah ini juga menuntut hadirnya kesadaran serta tanggung jawab penuh dari para suami untuk lebih gigih dan tidak memelihara rasa malas dalam mencari nafkah demi kelangsungan keluarga.
Pemerintah daerah tidak bisa hanya berhenti pada imbauan moral agar warga menjauhi rentenir atau bank emok tanpa menyodorkan solusi konkret di lapangan. Langkah nyata yang sangat mendesak saat ini adalah menghidupkan program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas di tingkat desa atau kecamatan. Pemerintah Kabupaten Bandung perlu mengoptimalkan peran BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) dan Koperasi Desa untuk menyediakan skema pinjaman mikro tanpa agunan yang aman, transparan, dan berbunga rendah.
Selain itu, alih-alih bantuan modal mentah, pemerintah bersama dinas terkait harus menghadirkan pelatihan kewirausahaan terpadu yang disertai pendampingan pemasaran produk lokal serta pembukaan lapangan kerja berbasis padat karya. Ketika para kepala keluarga dibekali akses kerja yang stabil dan para ibu diberikan wadah usaha yang produktif, kebiasaan bergantung pada pinjaman instan bank emok secara perlahan akan terkikis dengan sendirinya. (**)




















