POJOKBANDUNG.COM, MAMASA – Sebanyak 20 siswa dari empat sekolah di Kecamatan Tabulahan, Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), diduga keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) pada Senin (28/9). Mereka mengalami mual, sakit perut, sakit kepala, hingga sesak napas.
Siswa tersebut berasal dari SMPN 1 Tabulahan, SMKN 1 Tabulahan, SMPN 6 Tabulahan, dan SDN 017 Pepatian. Sebanyak 14 siswa berasal dari SMPN 1 Tabulahan dan empat siswa dari SMKN 1 Tabulahan. Dua lainnya berasal dari dua sekolah tersebut.
Kepala Puskesmas Tabulahan Iryana mengatakan, kondisi sebagian besar siswa sudah membaik. Dari 20 siswa yang sempat menjalani perawatan, kini tersisa sembilan orang di puskesmas. Satu siswa lainnya dirujuk ke RS Mamuju untuk penanganan lebih lanjut. ”Yang sudah membaik diperbolehkan pulang,” ucapnya dikutip Radar Sulbar Grup Jawa Pos kemarin (29/9).
Kepala Dinas Kesehatan Mamasa dr Ratna Sari Dewi menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi siswa. Sampel tersebut dikirim ke BPOM Mamuju untuk diperiksa guna memastikan penyebab munculnya gejala.
Menurut Ratna, hasil pemeriksaan diperkirakan keluar dalam sekitar satu pekan. ”Kami perkirakan pemeriksaan memakan waktu sekitar satu minggu,” jelasnya.
SPPG Disuspend 20 Hari
Badan Gizi Nasional (BGN) menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tabulahan selama 20 hari menyusul kejadian tersebut. BGN juga menyampaikan permohonan maaf.
”Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang terjadi di SPPG Mamasa Tabulahan. SPPG ini akan di-suspend selama 20 hari ke depan,” kata Koordinator Wilayah SPPG Sulbar Firazh Ahmadillah kemarin.
Penghentian sementara dilakukan untuk evaluasi sembari menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan. BGN juga memprioritaskan penanganan siswa yang masih menjalani perawatan. ”Perawatan pasien yang terdampak merupakan prioritas utama kami,” ucap Firazh.
Ayam Diduga Belum Matang
Sementara itu, dugaan masalah pada menu ayam muncul setelah guru menemukan daging ayam yang masih berwarna merah atau belum matang sempurna. Pihak sekolah kemudian meminta siswa tidak mengonsumsi menu tersebut setelah sejumlah siswa mengalami mual, muntah, dan sakit kepala.
Puskesmas Tabulahan awalnya menangani 12 siswa. Jumlah siswa yang menjalani perawatan kemudian bertambah menjadi 20 orang. (mkb/aph/Jawa Pos)




















