Fasilitas Publik di Kota Bandung Rusak, Anggaran Terkuras

Momen hangat di taman kota, dari anak-anak yang asyik mencoba seluncuran hingga orang tua yang mengawasi sambil berbincang, ruang publik di bawah flyover ini menjadi titik kumpul baru bagi komunitas. Tempat di mana interaksi sosial dan kebahagiaan sederhana terjalin di tengah hiruk pikuk kota. Foto : Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung/Pojok Bandung

Momen hangat di taman kota, dari anak-anak yang asyik mencoba seluncuran hingga orang tua yang mengawasi sambil berbincang, ruang publik di bawah flyover ini menjadi titik kumpul baru bagi komunitas. Tempat di mana interaksi sosial dan kebahagiaan sederhana terjalin di tengah hiruk pikuk kota. Foto : Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung/Pojok Bandung

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Kondisi sejumlah taman dan fasilitas publik di Kota Bandung kembali menjadi perhatian setelah Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) menemukan berbagai kerusakan yang diduga akibat vandalisme dan pencurian komponen. Persoalan yang membuat upaya pemeliharaan taman harus berulang, sementara anggaran perawatan yang tersedia saat ini terbatas.

Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan mengatakan keterbatasan anggaran bukan menjadi alasan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengabaikan perawatan ruang publik. Petugas tetap melakukan pemantauan dan perbaikan, tetapi hasil pemeliharaan kerap tidak bertahan lama karena fasilitas kembali dirusak.

“Seperti taman-taman itu kan kita butuh anggaran, anggaran pemeliharaan. Sedangkan dengan kondisi sekarang, anggaran pemeliharaan itu terbatas,” ujar Nana, Kamis (13/8/2026).

Nana mengungkapkan persoalan terlihat saat petugas melakukan monitoring terhadap kondisi taman pada malam maupun siang hari. Fasilitas yang baru saja diperbaiki dan terlihat baik dapat kembali mengalami kerusakan hanya dalam hitungan hari.

Nana mencontohkan kasus hilangnya kabel pada fasilitas taman. Setelah dilakukan pengecekan, kabel yang sebelumnya terpasang ternyata sudah tidak ada. Kondisi itu membuat fasilitas penerangan tidak dapat kembali difungsikan sebelum komponen pengganti tersedia dan anggaran perbaikan disiapkan.

“Kadang saya monitoring malam, dua hari itu sudah berkilau indah tamannya. Tiga hari kemudian saya monitoring sudah gelap. Setelah dicek, ternyata kabelnya hilang,” katanya.

Kerusakan serupa juga terjadi pada sejumlah fasilitas publik yang telah dibersihkan atau dicat ulang. DPKP harus kembali mengerahkan petugas untuk memperbaiki bagian yang dirusak. Salah satu lokasi yang disebut Nana adalah Taman Film Bandung yang berada di kawasan Pasupati.

“Contohnya Taman Film. Terakhir di jalan layang Pasupati, di Jembatan Surapati, kita bersihkan dan rapikan, dua hari kemudian vandalisme lagi,” tuturnya.

Selain vandalisme, fasilitas ikonik di kawasan Simpang Lima juga mengalami kerusakan. Jam yang sempat menjadi perhatian publik karena tidak berfungsi disebut bukan sekadar persoalan pemeliharaan rutin, melainkan berkaitan dengan komponen di dalam fasilitas yang telah hilang atau rusak.

Nana menjelaskan pintu fasilitas Jam bahkan sempat dijebol. Setelah dibuka, sejumlah bagian di dalamnya sudah tidak ada sehingga jam tidak bisa langsung dinyalakan kembali. Pemkot perlu membeli komponen pengganti sebelum fasilitas jam dapat difungsikan.

“Mau nyala bagaimana, komponennya harus dibeli. Komponen jamnya itu harus ada,” katanya.

Lebih lanjut, Nana menunjukkan persoalan fasilitas publik tidak selalu disebabkan minimnya perhatian pemerintah. Ada faktor kerusakan dan kehilangan komponen yang membuat biaya pemeliharaan terus bertambah.

Nana pun meminta masyarakat ikut menjaga taman, ruang terbuka, serta berbagai fasilitas umum yang telah disediakan pemerintah. Kepedulian warga diperlukan agar hasil perbaikan tidak kembali sia-sia dalam waktu singkat.

“Minimal memelihara, merawat. Ada petugas, minimal ikut mengamankan, jangan dirusak,” ucap Nana.

Nana menilai kerusakan fasilitas publik juga berdampak pada penggunaan anggaran. Dana yang seharusnya dapat dialokasikan untuk mempercantik atau memperbaiki taman lain akhirnya harus kembali digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang rusak akibat ulah oknum.

“Kalau kita bisa berhemat anggaran, uangnya bisa ke hal yang lain, misalnya untuk taman yang lain. Yang seharusnya bisa membuat beberapa taman, akhirnya cukup satu taman karena kerusakan fasilitas,” katanya.

Nana berharap edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga fasilitas publik dapat diperkuat, termasuk melalui pemberitaan media. Kondisi taman yang terawat menjadi bagian penting dari wajah Kota Bandung sehingga membutuhkan kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat.

“Bandung itu keindahan dan keamanan. Keindahan salah satunya taman-taman itu yang harus kita pelihara,” ujar Nana.(dsn)

loading...

Feeds

Array ( [browser_mode] => smartphone [post_views_count_255398] => 1 )