POJOKBANDUNG.COM, TEHERAN – Di tengah perang yang masih berlangsung, Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R. Ford mengalami kebakaran hebat selama lebih dari 30 jam. Namun, penyebab kebakaran disebut bukan karena serangan Iran.

Ilustrasi sejumlah titik di negara teluk menjadi sasaran drone Iran. Foto : BBC.
Sementara foto atas, ilustrasi kapal induk Amerika Serikat (AS). Foto : dok. JawaPos.com
Melainkan sistem internal di ruang utama laundry kapal. Kendati demikian, insiden ini menambah tekanan terhadap armada militer Amerika di tengah eskalasi perang melawan Iran yang kian kompleks.
Dilansir Daily Press, kebakaran itu membuat lebih dari 600 personel kehilangan tempat tidur di dalam kapal. Selain kerusakan fasilitas, insiden ini juga menyebabkan kelelahan fisik dan tekanan mental bagi personel yang harus tetap siaga di tengah kondisi darurat.
Sebelum ke Timur Tengah, kapal induk bersama dengan 4.500 pelaut dan pilot tempurnya melaju dari Mediterania ke Karibia pada 24 Oktober 2025. Kapal induk itu disebut terlibat dalam operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari. Kapal tersebut kemudian berangkat ke Timur Tengah untuk mendukung perang melawan Iran.
Kendati kapal induknya mengalami masalah, AS membantah jika kekuatan militernya menurun. Kebakaran itu bisa diatasi dan tidak menyebabkan kerusakan pada sistem penggerak kapal. Kapal induk tetap beroperasi penuh,” ujar Komando Pusat AS dalam rilisnya.
Iran Lanjutkan Serangan
Serangan Iran masih terus berlangsung hingga kemarin. Dilansir dari Al Jazeera, rudal dan drone tetap diluncurkan ke sejumlah wilayah di Teluk dan Israel, meski dalam jumlah lebih kecil. Para analis menilai, penurunan intensitas bukan berarti melemahnya kekuatan, melainkan perubahan strategi.
“Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncur rudal,” kata Profesor di National Defense University David Des Roches. Dia menjelaskan, Iran kini mengandalkan peluncur bergerak dan lokasi tersembunyi. Karena itu, sistem peluncur rudal dan drone Iran sulit dihancurkan meski berada di bawah tekanan serangan udara AS-Israel.
Strategi itu diperkuat dengan pendekatan perang asimetris. Iran tidak lagi mengandalkan serangan besar-besaran, melainkan tekanan berkelanjutan dengan intensitas rendah namun konsisten. “Ini adalah perlombaan melawan waktu,” ujar peneliti di German Institute for International and Security Affairs Hamidreza Azizi.
Iran juga mengandalkan drone murah namun efektif. Serangan jenis ini dinilai mampu menembus pertahanan dan menciptakan dampak psikologis. “Hanya dibutuhkan satu drone untuk menghancurkan rasa aman,” kata asisten profesor studi keamanan di Doha Institute for Graduate Studies Muhanad Seloom.
Dampak strategi tersebut tidak hanya dirasakan di medan tempur. Kawasan Teluk dilaporkan mengalami gangguan serius, mulai dari kebakaran di fasilitas industri hingga terganggunya jalur penerbangan dan pelayaran. Ketegangan di Selat Hormuz juga memicu lonjakan harga minyak global.
Bahkan, tekanan ekonomi yang dihasilkan dinilai bisa menyamai dampak serangan militer langsung. “Hal itu dapat menimbulkan kerusakan yang sama atau lebih besar bagi Amerika daripada bom Amerika di Iran,” kata profesor di Johns Hopkins University Amerika Serikat Vali Nasr.
Di sisi lain, situasi ini juga memunculkan persoalan di internal pemerintahan Amerika. Pernyataan Presiden Donald Trump yang kerap berubah dinilai memperburuk keadaan. “Ini benar-benar menjadi krisis sekarang bagi pemerintahan Trump,” kata profesor studi media di Doha Institute for Graduate Studies Mohamad Elmasry.
Komunikasi AS-Iran
Saluran komunikasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali aktif dalam beberapa hari terakhir. Informasi ini diungkap seorang pejabat Amerika dan sumber yang mengetahui perkembangan tersebut.
Dilansir dari Axios, kontak itu disebut terjadi antara utusan Amerika, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Namun, belum diketahui sejauh mana substansi pesan kedua pihak.
Meski demikian, komunikasi ini menjadi yang pertama kali diketahui sejak perang pecah lebih dari dua pekan lalu. Sumber menyebut, pesan yang disampaikan berfokus pada upaya mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Araghchi membantah adanya kontak terbaru tersebut. Dalam pernyataannya di media sosial, dia menegaskan bahwa komunikasi terakhir dengan Witkoff terjadi sebelum keputusan Amerika menghentikan jalur diplomasi dan melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Menanggapi bantahan itu, pejabat Amerika justru menyatakan sebaliknya. Dia mengklaim bahwa Araghchi tidak jujur dan menyebut pihak Iran yang terlebih dahulu menginisiasi komunikasi melalui pesan singkat.
Sementara itu, Trump mengatakan, Iran memang telah berkomunikasi dengan pihaknya, meski belum jelas apakah pihak yang terlibat memiliki kewenangan untuk mencapai kesepakatan. “Mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka berbicara dengan orang-orang kami, tetapi kami tidak tahu siapa mereka,” ujar Trump.
Dia juga menyatakan tetap terbuka terhadap kemungkinan perundingan. Namun, di saat bersamaan, Trump meragukan kesiapan Teheran untuk mencapai kesepakatan. Dia menambahkan bahwa situasi kepemimpinan di Iran saat ini belum jelas, menyusul banyaknya pejabat tinggi yang dilaporkan tewas dalam konflik.
Seorang pejabat senior Amerika menegaskan bahwa Washington menolak tuntutan Iran terkait kompensasi sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun, Amerika disebut terbuka pada kesepakatan yang memungkinkan Iran kembali terintegrasi dengan ekonomi global, termasuk melalui ekspor minyak.
Di pihak lain, pejabat Iran secara konsisten menyatakan tidak sedang melakukan negosiasi gencatan senjata dengan pemerintahan Trump. Teheran juga menolak gencatan senjata sementara dan menginginkan jaminan bahwa setiap kesepakatan damai bersifat permanen.
Sumber juga menyebut Araghchi saat ini berkoordinasi dengan Ali Larijani, yang disebut sebagai pemimpin sipil de facto Iran pascakrisis kepemimpinan. Meski bukan pengambil keputusan utama, Araghchi dinilai tetap menjadi jalur komunikasi penting bagi Amerika karena hubungan yang sudah terjalin sebelumnya.
Plt Direktur Perlindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Heni Hamidah memastikan, tak ada WNI yang terdampak dari jatuhnya serpihan drone di sejumlah wilayah di Uni Emirat Arab (UEA) seperti Dubai, Fujairah, dan Umm Al Quwain pada Senin (16/3). Diketahui, serpihan drone tersebut telah menyebabkan kebakaran di beberapa titik, termasuk di area dekat Dubai International Airport (DXB).
Akibat insiden tersebut, operasional penerbangan di Dubai International Airport (DXB) sempat ditunda hingga pukul 10.00 waktu setempat, dan sejumlah penerbangan dialihkan ke bandara terdekat. “Otoritas setempat segera menangani kejadian tersebut dan hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa,” ungkapnya Selasa (17/3).
Meski begitu, terdapat laporan adanya dua penerbangan maskapai Emirates dari Indonesia menuju Dubai yang terdampak pengalihan pendaratan. Yakni, EK 359 rute Jakarta–Dubai dialihkan mendarat di Zayed International Airport dengan perkiraan 309 penumpang. Kemudian, EK 399 rute Denpasar–Dubai dialihkan mendarat di Al Maktoum International Airport dengan perkiraan 300 penumpang.
“Sejauh ini tidak terdapat laporan WNI yang menjadi korban ataupun yang meminta bantuan terkait insiden tersebut,” ungkapnya pada Selasa (17/3). Heni menekankan, bahwa Perwakilan RI di Timur Tengah, khususnya UEA, terus memantau perkembangan situasi di sana. KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai pun telah berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat serta maskapai terkait untuk memastikan kelancaran perjalanan WNI yang terdampak. (lyn/mia/oni/Jawa Pos)


















