POJOKBANDUNG.COM, BANJARMASIN – Wakil Menteri Perhubungan Suntana memastikan bahwa Arif Yunianto, nakhoda KM Virgo Transport 8, selamat setelah kapal tersebut mengalami kecelakaan pelayaran di Laut Jawa. Yang bersangkutan saat ini sedang menjalani pemeriksaan.
Namun, dalam konferensi pers di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Selasa (14/9/2026), Suntana tidak mendetailkan apa materi pemeriksaan dan siapa yang memeriksa Arif. Adapun keberadaan Voyage Data Recorder (VDR) atau semacam black box alias kotak hitam seperti pada pesawat belum ditemukan.
VDR merekam sejumlah data pelayaran yang dapat membantu proses investigasi. Suntana belum dapat memastikan apakah VDR KM Virgo Transport 8 masih berada di kapal.
“Menunggu kapal diangkat dulu,” katanya, seperti dilansir Radar Banjarmasin.
Di sisi lain, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memastikan perangkat sinyal darurat kapal atau EPIRB dalam kondisi aktif. Emergency Position Indicating Radio Beacon merupakan perangkat yang digunakan kapal untuk memancarkan sinyal darurat ketika terjadi keadaan yang membutuhkan pertolongan.
“Sinyal EPIRB dipantau melalui sistem deteksi yang dimiliki Basarnas maupun negara lain yang tergabung dalam sistem pemantauan,” katanya.
Sebelumnya, muncul pertanyaan mengenai kabar alarm atau sinyal darurat kapal tidak berbunyi. Namun, Syafii membantahnya. “Yang terjadi adalah adanya jeda,” katanya.
Bantuan Gubernur
Sampai dengan kemarin (16/9) pukul 19.00, korban yang telah terevakuasi masih sama dengan sehari sebelumnya, yakni sebanyak 114 orang, dengan 108 di antaranya selamat. Sedangkan 129 lainnya masih dalam pencarian.
Sementara itu, Gubernur Kalsel Muhidin menyiapkan bantuan pribadi Rp 5 juta untuk masing-masing korban selamat KM Virgo Transport 8. Artinya, total bantuan yang disiapkan mencapai Rp 540 juta.
Menurut dia, bantuan tersebut tidak dibatasi untuk keperluan tertentu. “Dia mau pulang terserah, mau tinggal terserah, mau kerja di sini terserah. Yang penting kalau pulang, dia bisa beli tiket sendiri,” jelas Muhidin saat memantau proses evakuasi di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, kemarin.
Hasil Kajian
Sementara itu, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIA) BRIN melakukan analisis gelombang laut saat terjadi kecelakaan KM Virgo Transport 8 pada 13 September lalu. Hasilnya, memang terjadi gelombang setinggi 1,56 meter. Namun, belum termasuk kategori gelombang ekstrem.
“Dengan periode sekitar enam detik,” katanya kemarin (16/9).
Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter). Sedangkan untuk kategori tinggi dimulai pada tinggi gelombang 2,50 meter. Berikutnya, kategori sangat tinggi pada ketinggian gelombang 4 meter ke atas.
“Namun, kajian ini bukan menjadi acuan penyebab tunggal kecelakaan kapal,” katanya. (van/wan/ttg/Jawa Pos)



















