POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Capaian positif berhasil diraih Jawa Barat dalam upaya penurunan angka stunting. Saat ini, angka stunting di Jawa Barat tercatat sebesar 20,2% per-tahun 2022 atau turun 4,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 24,5%.
Hal tersebut diungkapkan Deputi KB Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Eni Gustina dalam Rapat Kerja Daerah Bangga Kencana Provinsi Jawa Barat di Holiday Inn Pasteur Bandung, Selasa (14/2).
“Saya mengapresiasi penurunan ini, dan untuk tahun sekarang harus bisa menurunkan dua kali lipat. Jadi untuk tahun 2023 harus bisa mendapatkan 8,6 persen,” kata Eni Gustina.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jabar, Wahidin menyampaikan, sinergitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak terus ditingkatkan dalam pelaksanaan program Bangga Kencana dan penurunan stunting di Jawa Barat.
Dikatakan Wahidin, peningkatan sinergitas dan kolaborasi penting karena program tersebut melibatkan banyak stakeholder yang memiliki peran dan tanggung jawab berbeda-beda.
“Bangga Kencana merupakan program pemerintah pusat untuk peningkatan kesejahteraan ibu hamil, bayi, dan balita dengan konsep pelayanan kesehatan holistik, terpadu, dan berkelanjutan,” tutur Wahidin.
Dalam konteks Jawa Barat, terang Wahidin, Bangga Kencana diintegrasikan dengan program penurunan stunting, yang merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan.
“Kita berdiskusi dan presentasi terkait upaya-upaya yang telah dilakukan serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Bangga Kencana dan penurunan stunting di Jawa Barat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Wahidin menyampaikan beberapa keberhasilan BKKBN Jabar dalam menjalankan program pemerintah. Salah satunya menurunkan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat menjadi 1,34 pada tahun 2020.
Di samping itu, pola kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Jawa Barat kini mencapai 2,11. Termasuk kelahiran kelompok umur (ASFR) usia 15-19 tahun turun menjadi 24,46/1000 (berdasarkan hasil long form sensus penduduk tahun 2020 yang telah dirilis BPS).
“Hasil TFR menunjukan bahwa Jawa Barat telah menuju replacement level atau penduduk tumbuh seimbang (seorang Ibu akan digantikan oleh satu Anak Perempuan),” jelas Wahidin.




















