Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Wanadri Tri Wahyu Murni mengatakan, pihaknya menyadari harus lebih fokus terhadap keberadaan hotan mangrove di Jabar. Hal ini dimulai dengan Pesisir Utara Desa Mayangan, Kabupaten Subang.
“Kenapa memilih kawasan ini, karena kami sering melakukan kegiatan di sini, dan dari tahun ke tahun ketika kami melakukan penyusuran sungai memang seperti ada pergeseran,” jelasnya.
Tri mengatakan, ratusan hutan mangrove tergerus sejauh 1,5 kiloeter setiap tahunnya. Karenanya, dibutuhkan perhatian khusus terhadap hutan mangrove ini dengan tujuan membentuk green belt di kawasan Pantura.
“Nanti tergantung Pemda dukungannya seperti apa. Kami mencoba membuat sebuah model baik itu penelitian sampai penanaman mangrove. Karena penanaman mangrove tak bisa dilakukan sepanjang tahun tapi ada waktu tertentu,” pungkasnya.
Sekjen Masyarakat Agrikultur Indonesia, Denny Indrayana menambahkan, untuk bisa mempertahankan hutan mangrove harus melibatkan semua pihak termasuk masyarakat dan pemuka agama.
“Kalau kita tidak melibatkan semua elemen masyarakat maka sekarang kita menanam pohon mangrove jangan harap besok masih ada. Kalau dibiarkan terus begini lingkungan bisa rusak. Masyarakat juga harus diberikan pemahaman bahwa hutan mangrove juga bisa mempunyai nilai ekonomi,” pungkasnya.
(adv)




















