POJOKBANDUNG.COM, JAKARTA – Sebuah rumah di Perumahan Taman Sunter Agung Mas, Jakarta Utara menjadi tempat produksi narkotika jenis ekstasi.

Rilis penggerebekan pabrik home industry narkoba milik bandar jaringan internasional Fredy Pratama di Sunter, Jakarta Utara. Foto-foto: dokumentasi Humas Polri
Keberadaan ’pabrik’ ekstasi itu diketahui setelah Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menggerebek rumah tersebut. Tidak hanya itu, mereka mendapati temuan operasional rumah tersebut berada di bawah kendali Fredy Pratama.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Mukti Juharsa menyampaikan bahwa penggerebekan rumah di Sunter berawal dari informasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Baca Juga :Kronologi Kecelakaan di KM 58 Jalan Tol Japek
Mereka mendeteksi kiriman bahan baku pembuatan ekstasi yang masuk melalui Bandara Internasional Soekarno – Hatta. ”Barang-barang itu masih dalam bentuk prekursor (narkoba), diracik pelaku untuk membuat ekstasi,” ungkap dia, kemarin (8/4/2024).
Dalam penggerebekan tersebut, Bareskrim Polri berhasil mengamankan enam orang.
Namun hanya empat orang yang dijadikan tersangka.
Baca Juga : Sopir Elf Jurusan Bandung-Cirebon Turun Omset Imbas Sepinya Pemudik
Dua orang lainnya dipastikan tidak terkait dan tidak tahu sama sekali aktivitas para pembuat ekstasi di rumah tersebut.
Empat orang tersangka itu terdiri atas A alias D, R, C, dan G. Seluruhnya laki-laki. Mereka bekerja di bawah panduan seorang DPO berinisial D.
Mukti menyatakan bahwa D adalah ahli kimia yang juga jaringan Fredy Pratama.
”Dia (memberikan) tutorial melalui video call, tutorial cara pembuatan ekstasi kepada pelaku,” terang jenderal bintang satu Polri tersebut.
Disebutkan oleh Mukti, para pembuat ekstasi tersebut sebelumnya merupakan kurir. Mereka naik kelas menjadi produsen dengan panduan D.
Melalui penggerebekan di Sunter, Bareskrim Polri juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti.
Diantaranya telepon genggam, bahan kimia yang digunakan untuk membuat ekstasi, alat pembuatan ekstasi, uang tunai Rp 34,9 juta, serta 7.800 butir ekstasi.
”Keuntungan dia (para pelaku) setiap satu butir itu Rp 10 ribu,” jelas Mukti.
Bareskrim Polri meyakini empat orang tersangka itu sebagai bagian jaringan Fredy Pratama lantaran mereka mengantongi barang bukti.
Mukti menyebutkan bahwa ada barang bukti komunikasi melalui Blackberry Messenger antara pelaku dengan Fredy Pratama.
”Ada komunikasi yang menguasai, yang mengendalikan adalah Fredy Pratama dan itu adalah alat bukti yang cukup untuk kami,” kata dia menegaskan.
Meski barang baku untuk membuat narkoba dikirim oleh WNA dari Tiongkok berinisial FA, Mukti memastikan bahwa Fredy saat ini masih berada di Thailand.
”Berdasar informasi yang kami dapat, dia (Fredy Pratama, Red) masih di Thailand dan masih di dalam hutan,” jelasnya.
Untuk menangkap Fredy, Bareskrim Polri sudah mengeluarkan Red Notice.
Namun demikian, mereka tidak bisa langsung bergerak. Mereka harus menunggu otoritas Thailand.
Bukan hanya di Sunter, Mukti menyatakan bahwa jaringan Fredy Prama di Lampung dan Semarang juga sudah ditangkap.
Total sudah ada 62 jaringan Fredy Pratama yang ditangkap oleh Bareskrim Polri.
”Nggak kapok-kapok ini. Makanya doakan biar cepat-cepat ketangkap Fredy Pratama,” imbuhnya. (syn/jawa pos)