Revolusi Mentalitas Masyarakat, Ini Komitmen Gubernur Dedi Mulyadi untuk Jawa Barat yang Lebih Baik

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Modifikasi Cuaca: Perpaduan Ilmiah dan Kehendak Ilahi dalam sebuah pernyataan di Bale Pakuan, Kota Bandung, Minggu (30/3/2025), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti fenomena cuaca cerah yang melingkupi wilayahnya.

Revolusi Mentalitas Masyarakat, Ini Komitmen Gubernur Dedi Mulyadi untuk Jawa Barat yang Lebih Baik

Sebagai simbol kebanggaan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengangkat makna mahkota yang dikenakan para raja Sunda di masa lalu. Mahkota itu melambangkan kekayaan dan kejayaan, Bale Pakuan, Kota Bandung, Minggu (30/3/2025). Foto-foto : Diwan Sapta Nurmawan/Pojok Bandung

Menurut Dedi Mulyadi, cuaca adalah hasil dari dua faktor, kehendak Ilahi dan intervensi ilmiah melalui modifikasi cuaca.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan selama hampir satu bulan, pemerintah provinsi bekerja sama dengan BMKG dalam upaya mengendalikan curah hujan.

Baca Juga :Antisipasi Lonjakan Sampah Masa Libur Idul Fitri di Kota Bandung, Pemdaprov Jabar Akan Bantu Mesin Insinerator

Hasilnya, 90% berhasil, di mana hujan dialihkan dari Bandung ke lautan.

Keberhasilan ini bukan hanya membuktikan kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga menunjukkan pentingnya sinergi antara manusia dan alam.

Dedi pun mengapresiasi BMKG atas kerja kerasnya dalam menjaga kestabilan iklim di Jawa Barat.

Baca Juga :Lalu Lintas Sekitar Gedung Merdeka Ramai oleh Warga Bandung Saat Libur Lebaran

Dedi mengungkapkan suara bedug dalam Ramadan bukan sekadar pertanda waktu, tetapi juga simbol spiritualitas dan kebersamaan.

Tradisi lilikuran yang berlangsung di malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan warisan budaya yang sarat makna.

Dulu, masyarakat saling berbagi tanpa memandang status sosial.

Baca Juga :H-2 Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah, Arus Lalin di KBB Lancar

Mereka yang memiliki lebih akan berbagi makanan seperti ayam, kambing, atau ikan kepada sesama.

“Di masa lalu, tidak ada yang merasa miskin, sebab budaya silih anteran, saling memberi dan menerima menciptakan keseimbangan sosial. Namun, di era modern, ketika pendidikan dan ekonomi berkembang pesat, justru banyak orang merasa miskin dan menggantungkan diri pada bantuan sosial,” ujarnya di Bale Pakuan, Kota Bandung, Minggu (30/3/2025).

Dedi menambahkan alih-alih semangat berbagi, kini banyak yang mengeluh jika tidak mendapatkan bantuan. Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana nilai-nilai luhur mulai tergerus oleh mentalitas ketergantungan.

Dedi menyoroti pergeseran mentalitas masyarakat yang semakin mengkhawatirkan. Jika dulu orang malu untuk meminta-minta, kini ada yang dengan sengaja berpura-pura miskin, cacat, atau kelaparan demi memperoleh belas kasihan.

“Jika tidak segera diperbaiki, kebiasaan ini akan diwariskan dari generasi ke generasi, menciptakan siklus kemalasan dan ketergantungan yang sulit diputus,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya budaya premanisme juga menjadi ancaman serius. Kelompok-kelompok tertentu sengaja membangun komunitas dengan tujuan menakut-nakuti orang lain demi keuntungan pribadi. Mereka lebih memilih hidup dari memeras ketimbang bekerja keras.

“Jika terus dibiarkan, produktivitas masyarakat akan menurun drastis, sementara ruang-ruang kerja di Jawa Barat akan diisi oleh orang luar, menjadikan penduduk asli sebagai tamu di tanah sendiri,” ungkapnya.

Sebagai pemimpin, Dedi menegaskan ia tidak hanya ingin membangun jalan, jembatan, atau irigasi, tetapi juga ingin membentuk karakter rakyat Jawa Barat agar memiliki mentalitas petarung, bukan pengemis. Ia ingin melihat warganya bekerja keras untuk masa depan yang lebih baik, bukan sekadar menunggu bantuan.

Festival bedug, menurutnya, bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat tentang pentingnya disiplin dan kerja keras. Bedug subuh menandakan waktunya bangun dan memulai hari dengan produktif, sementara bedug magrib menandakan saatnya kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga. Siklus hidup yang teratur ini jika diterapkan dengan baik akan menciptakan individu yang seimbang dalam bekerja, beribadah, dan beristirahat.

Dedi menegaskan kepemimpinannya akan berfokus pada tindakan nyata. Jika sebelumnya segala sesuatu membutuhkan banyak rapat, kini pendekatan yang diterapkan lebih langsung pada eksekusi.

“Dalam 14 hari memimpin, saya telah menjalankan berbagai kebijakan seperti penanganan banjir dan program renovasi rumah,” jelasnya.

Dedi juga tidak ragu mengambil langkah tegas terhadap berbagai permasalahan sosial, seperti mengatasi pengemis yang berpura-pura miskin dan pengguna knalpot brong yang mengganggu ketertiban.

“Membangun Jawa Barat bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga membentuk masyarakat yang bermartabat, produktif, dan bermental tangguh,” tegasnya.

Dedi menutup pidatonya dengan menekankan momentum satu Syawal harus menjadi awal dari perubahan besar.

Bukan hanya perubahan fisik, tetapi juga perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, masyarakat Jawa Barat dapat menjadi yang terdepan di Indonesia.

Sebagai simbol kebanggaan, Dedi mengangkat makna mahkota yang dikenakan para raja Sunda di masa lalu. Mahkota itu melambangkan kekayaan dan kejayaan, yang menunjukkan kerajaan Sunda dulu adalah wilayah yang kuat dan makmur. Namun, sejarah juga mengajarkan kelemahan terbesar orang Sunda adalah terlalu baik hati dan mudah percaya. Oleh karena itu, selain memiliki hati yang bersih, masyarakat harus tetap waspada dan cerdas dalam menyikapi berbagai tantangan zaman.

Dedi menegaskan perubahan harus dimulai sekarang. Ia bertekad untuk menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi yang unggul dengan rakyat yang tangguh dan berdaya saing.

“Inilah saatnya untuk bergerak maju, membangun peradaban baru yang lebih baik, dan memastikan rakyat Jawa Barat menjadi yang terbaik di Indonesia,” pungkasnya.(dsn)

loading...

Feeds