POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat saat ditemui di kantornya, Sabtu (29/3/2025) memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika arus mudik yang terjadi di terminal.

Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat saat ditemui di kantornya, Sabtu (29/3/2025) memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika arus mudik yang terjadi di terminal. Foto-foto: Diwan Sapta Nurmawan/Pojok Bandung
Sebagai salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung, Terminal Leuwipanjang mengalami lonjakan signifikan jumlah penumpang yang melakukan perjalanan mudik Lebaran, baik yang berangkat dari Bandung maupun yang datang ke Kota Bandung.
Asep Hidayat menjelaskan pada H-3 Lebaran jumlah penumpang yang diberangkatkan dari Terminal Leuwipanjang mencapai angka 4.322 orang.
Baca Juga :Bupati Subang Reynaldi Serahkan Bantuan kepada Warga Terdampak Puting Beliung di Dua Kecamatan
Angka ini jauh melampaui target awal yang diperkirakan berkisar antara 3.500 hingga 3.700 penumpang.
Sementara itu, jumlah kedatangan tercatat lebih tinggi, mencapai 6.942 penumpang.
Hal ini menunjukkan banyak perantau yang memilih untuk kembali ke Bandung guna merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga mereka.
Baca Juga :Gagalkan Perang Sarung, Polsek Pagaden Subang Amankan 11 Remaja Berbahaya
“Memang lebih banyak kedatangan dibandingkan keberangkatan karena mayoritas masyarakat yang mudik ke Bandung adalah mereka yang merantau. Sementara, arus mudik dari Bandung sendiri lebih bersifat lokal,” jelas Asep saat ditemui, Kantor Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu (29/3/2025).
Asep mengungkapkan hari ini, Sabtu (29/3/2025) diperkirakan menjadi puncak terakhir arus mudik sebelum memasuki masa libur Lebaran.
Lonjakan penumpang terjadi di semua trayek, baik menuju kota-kota di Jawa Barat maupun lintas provinsi.
Namun, beberapa kendala turut mewarnai pergerakan arus mudik tahun 2025, terutama terkait kepadatan di jalur tol yang berdampak pada keterlambatan kedatangan bus di terminal.
“Beberapa armada mengalami keterlambatan akibat kemacetan di jalur tol. Misalnya, di daerah Sikambing, kepadatan lalu lintas cukup panjang. Sistem one-way kabarnya sudah diberlakukan, namun kemungkinan kepadatan tetap terjadi,” ungkap Asep.
Selain itu, menurutnya, perjalanan dari arah Sukabumi juga menghadapi tantangan besar akibat kemacetan di kawasan Padalarang hingga Rajamandala.
Penumpukan penumpang
Hal ini menyebabkan penumpukan penumpang yang cukup signifikan di Terminal Leuwipanjang, terutama bagi mereka yang harus melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi lainnya.
Asep menambahkan pada puncak arus mudik hari ini, Terminal Leuwipanjang menargetkan jumlah keberangkatan mencapai lebih dari 7.000 penumpang.
Namun, jumlah kedatangan diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya, yakni sekitar 3.000 hingga 4.000 penumpang.
H-1 Lebaran penumpang menurun
Asep menjelaskan pada H-1 sebelum Lebaran, jumlah penumpang yang diberangkatkan biasanya mengalami penurunan cukup signifikan.
“Sebagai gambaran, tahun lalu jumlah penumpang yang berangkat pada H-1 hanya sekitar 2.700 orang,” ujarnya.
Sementara itu, Asep menambahkan lonjakan besar justru diperkirakan terjadi pada arus balik setelah Lebaran.
Tahun lalu, Terminal Leuwipanjang mencatat puncak kedatangan mencapai 11.000 penumpang pada H+4 Lebaran.
“Kebanyakan yang kembali ke Bandung adalah pekerja dan pelajar. Diperkirakan, tanggal 8 April nanti akan terjadi lonjakan besar karena banyak yang harus kembali untuk masuk kerja atau sekolah,” tambahnya.
Asep pun menjelaskan dalam upaya memastikan kelancaran dan keamanan arus mudik, Terminal Leuwipanjang bekerja sama dengan berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Kependudukan dan BNN.
Tahun 2025, operasi pemeriksaan urine bagi pengemudi dilakukan oleh BNN dengan total peserta mencapai 40 orang.
“Hasil pemeriksaan kemarin menemukan satu orang yang positif. Namun, yang bersangkutan mengklaim hasil tersebut disebabkan oleh konsumsi obat dokter. Pihak kami segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan jenis obat yang dikonsumsi,” jelas Asep.
Menurutnya, jika ditemukan pengemudi yang terbukti mengonsumsi zat terlarang, maka keberangkatannya akan ditangguhkan dan digantikan dengan pengemudi lain yang dinyatakan sehat dan layak bertugas.
Asep juga menyoroti kondisi fasilitas di Terminal Leuwipanjang, termasuk eskalator yang mengalami kendala teknis.
“Memang ada gangguan pada eskalator yang saat ini sedang dalam tahap perbaikan. Pihak terminal upayakan agar segera berfungsi kembali sehingga dapat digunakan oleh para penumpang,” ungkapnya.
Selain itu, Asep mengatakan sistem penjualan tiket online di Terminal Leuwipanjang juga masih dalam proses perbaikan.
Sebelumnya, sistem ini sempat beroperasi, namun karena kontrak dengan pihak pengelola sebelumnya telah habis, saat ini belum ada perpanjangan kerja sama.
“Saya berharap ke depannya semua tiket bisa dipesan secara online, seperti yang sudah diterapkan di beberapa perusahaan otobus besar seperti Sinar Jaya, Eka Malang, dan Gunung Harta. Dengan sistem online, penumpang tidak perlu lagi berurusan dengan calo dan bisa langsung naik bus sesuai tiket yang telah dipesan,” ungkapnya.
Dalam hal tarif tiket, Asep memastikan harga tetap sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, ia mengakui masih ada oknum yang mencoba menaikkan tarif di luar batas yang diizinkan.
“Kenaikan tarif resmi diperbolehkan di kisaran 20 hingga 25 persen. Jika ada yang menaikkan lebih dari itu dan ditemukan dalam pemeriksaan, maka kami akan mengambil tindakan tegas,” ungkapnya.
Asep menegaskan untuk mengawasi harga tiket, petugas checker dari masing-masing perusahaan bus terus melakukan pengecekan di lapangan. Selain itu, pengawasan juga dilakukan terhadap praktik pungutan liar yang sering terjadi di jalan.
“Biasanya pada malam takbiran, ada oknum yang menarik tarif tinggi kepada penumpang. Namun, pihak terminal akan terus berkoordinasi untuk mengawasi dan menindak pelanggaran seperti itu,” tegas Asep.
Asep menambahkan saat ini, antrean panjang di loket tiket sudah jarang terjadi karena sebagian besar penumpang langsung membayar saat naik ke bus. Meski demikian, Asep menekankan sistem pembayaran seharusnya dilakukan secara online guna meningkatkan transparansi dan kenyamanan bagi penumpang.
“Saya ingin sistem di terminal ini lebih modern dengan digitalisasi tiket. Jadi, tidak ada lagi transaksi manual di atas bus, semuanya sudah terintegrasi dengan sistem IT,” tambahnya.
Asep pun optimis melalui berbagai upaya dan koordinasi lintas sektor, Terminal Leuwipanjang akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para pemudik. Meski masih menghadapi beberapa kendala, langkah-langkah pengamanan dan peningkatan fasilitas terus dilakukan demi kelancaran arus mudik dan balik Lebaran tahun 2025.(dsn)