Hilal Awal Syawal 1446 H Sulit Terlihat di Kota Bandung, Tinggi Hilal Masih Negatif

POJOKBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar pengamatan hilal awal bulan Syawal 1446 Hijriyah di 37 lokasi di seluruh Indonesia, termasuk di Rooftop Stasiun Geofisika Bandung, Jalan Cemara, Kota Bandung.

Hilal Awal Syawal 1446 H Sulit Terlihat di Kota Bandung, Tinggi Hilal Masih Negatif

BMKG Stasiun Geofisika Bandung melakukan pengamatan hilal di Bandung. Namun, hasil observasi menunjukkan hilal sulit terlihat di Kota Kembang, Rooftop Stasiun Geofisika Bandung, Jl. Cemara, Kota Bandung, Sabtu (29/3/2025). Foto-foto: Diwan Sapta Nurmawan/Pojok Bandung

Berdasarkan hasil observasi, kemungkinan besar hilal tidak dapat teramati di Kota Bandung karena posisi bulan yang masih berada di bawah cakrawala saat matahari terbenam.

Ketua Tim Kerja Observasi BMKG, Sandy Nur Eko mengungkapkan secara astronomis, konjungsi geosentris atau ijtimak terjadi pukul 17.57 WIB.

Baca Juga :Bupati Subang Reynaldi Serahkan Bantuan kepada Warga Terdampak Puting Beliung di Dua Kecamatan

Namun, ketinggian hilal di berbagai wilayah Indonesia masih negatif.

Di Merauke, Papua, ketinggian hilal tercatat -3,29 derajat, sementara di Sabang, Aceh, berada pada -1,07 derajat. Untuk Kota Bandung sendiri, ketinggian hilal hanya -1 derajat 53,89 menit.

Artinya, sebelum matahari terbenam, bulan sudah lebih dulu tenggelam.

Baca Juga :Gagalkan Perang Sarung, Polsek Pagaden Subang Amankan 11 Remaja Berbahaya

Selain itu, Sandy menjelaskan elongasi atau jarak sudut antara matahari dan bulan juga menjadi faktor utama dalam observasi hilal.

Secara umum, di Indonesia, elongasi berkisar antara 1,06 derajat hingga 1,61 derajat, dengan Kota Bandung mencatat angka 1 derajat 3,69 menit.

Dengan jarak yang masih terlalu kecil, hilal semakin sulit untuk diamati.

Baca Juga :Viral, Warga Keluhkan Jalan Licin Akibat Matrial Tanah Merah di Wilayah di Wilayah Desa Padaasih Cibogo Subang

Sandy menambahkan aspek lain yang menjadi pertimbangan adalah umur bulan.

Di berbagai wilayah, umur bulan berkisar antara -2,22 jam hingga 0,84 jam, yang menandakan bulan masih sangat muda dan sulit terlihat dengan mata telanjang.

Fraksi iluminasi bulan persentase bagian bulan yang terkena sinar matahari dan tampak dari bumi juga tergolong sangat rendah.

Bandung hanya 0,03 persen

“Di Sabang, fraksi iluminasi hanya 0,02%, sementara di Merauke mencapai 0,05%. Untuk Bandung, fraksi iluminasi hanya sebesar 0,03%, angka yang terlalu kecil untuk menghasilkan cahaya yang cukup bagi pengamatan visual,” jelas Sandy saat diwawancara, Rooftop Stasiun Geofisika Bandung, Jl. Cemara, Kota Bandung, Sabtu (29/3/2025).

Tidak terlihat

Sandy menambahkan berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan hilal di Kota Bandung tidak akan terlihat.

Matahari terbenam di wilayah ini pukul 17.55.53 WIB, sedangkan bulan lebih dahulu tenggelam di ufuk barat pukul 17.49.30 WIB.

Dengan kata lain, sebelum kondisi langit cukup gelap untuk observasi, bulan sudah menghilang dari pandangan.

Di Kemenag

“Kendati demikian, keputusan resmi mengenai awal bulan Syawal tetap berada di tangan Kementerian Agama yang akan menggelar sidang isbat pada malam hari,” ujar Sandy.

Menurutnya, sidang isbat akan mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai daerah serta perhitungan hisab untuk menentukan kapan umat Islam di Indonesia akan merayakan Hari Raya Idulfitri.

“BMKG terus berkontribusi dengan menyediakan data ilmiah yang akurat guna mendukung kajian astronomi dalam penentuan awal bulan hijriyah,” pungkasnya.(dsn)

loading...

Feeds