Siapkan PK untuk Bebaskan Tujuh Terpidana Lain Kasus Vina

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tim pengacara dari Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan Mantan Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi melakukan kunjungan ke Rutan Kelas 1 Bandung Kebon Waru untuk mendiskusikan tahap Peninjauan Kembali (PK) terkait kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon pada tahun 2016.


Kunjungan ini dilakukan untuk mendalami dan mengumpulkan informasi serta kesaksian yang dapat mendukung upaya PK terhadap enam terpidana dalam kasus tersebut.

Kuasa Hukum tujuh terpidana, Juntek Bongso menyatakan dibebaskannya Pegi Setiawan dari tuntutan lewat proses praperadilan memberikan kans serupa bagi tujuh terpidana lain yang kini mendekam di tahanan.

“Kalau kita lihat hubungan Pegi, putusan perapradilan, dan klien kami secara langsung memang tidak ada hubungannya ya. Tetapi kalau dilihat secara klonologis kejadian dan yang didakwakan tentu ada hubungannya. Karena itu sangat penting bebasnya Pegi kemarin,” kata Juntek, Selasa (9/7).

Dia menerangkan dari kemenangan praperadilan PS, terdapat kesamaan nasib yang dialami oleh kliennya. Sehingga dia yakin persoalan yang menimpa tujuh terpidana tersebut akan dapat ditinjau kembali lewat peradilan dengan pertimbangan adanya kerancuan dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh kepolisian.

“Pegi di dalam dakwaan, di dalam rangkaian peristiwa yang diterangkan menjadi landasan putusan, juga dituduh memperkosa dan juga membunuh. Nah klien kami pun sama mereka tidak lakukan sehingga tentu akan banyak peristiwa yang nanti kami akan uraikan di memori PK,” ujarnya.

Berdasar pengakuan para terpidana, ia menjelaskan bahwa kliennya tersebut tidak mengenal tiga DPO yang sempat diumumkan oleh Polda Jabar. “Termasuk DPO yang lain, ada Dhani, ada Andi, kami baru saja cek sama para terpidana yang ada di dalam pun, mereka tidak kenal,” pungkasnya.

Menambahkan hal itu, Pendamping Sosial, Dedi Mulyadi, mengungkapkan temuan penting dari hasil kunjungannya di Cirebon dan keterangan para terpidana hari ini. Dia menjelaskan dari keterangan yang didapatnya bahwa keenam tersangka yang kini ditahan tidak berada di lokasi saat kejadian pembunuhan berlangsung.

“Aspek sosial yang saya temukan ketika saya keliling di Cirebon, bertemu dengan berbagai pihak dengar ceritanya kemudian saya cocokkan dengan keterangan para terpidana yang di dalam, dan itu persis sama ceritanya,” kata Dedi.

“Bahwa pada saat malam minggu (kejadian) mereka yang didalam mengaku kalau beraktivitas hanya di sekitaran rumah Pak RT Pasren dan warung Bu Nining yang ada di depan SMP 11 Cirebon,” imbuhnya.

Selain itu, dia pun menjelaskan soal adanya beberapa kejanggalan dalam surat BAP kepolisian terkait barang bukti yamg memberatkan hukuman para terpidana. Dia menyebut salah satu bukti yang janggal tersebut adalah penyertaan samurai dalam BAP sebagai barang bukti.

“Satu terpidana Ripaldi itu waktu itu ditangkap membawa senjata tajam jenis mandau, bukan samurai, senjata mandau itu dijadikan barang bukti ya. Sementara yang disebut dalam BAP adalah samurai,” jelasnya.

Oleh sebab itu, dia pun mempertanyakan soal proses pencatatan BAP yang dilakukan oleh pihak kepolisian. “Saya mungkin enggak tahu apa perbedaan mandau dengan samurai, tapi polisi, jaksa, hakim waktu itu kenapa tidak bisa mengkategorikan jenis senjata tajam, tidak bisa membedakan mana mandau yang mana samurai,” pungkasnya.

Sementara itu, Tim Kuasa Hukum lainnya, Rully Panggabean menyebut tidak khawatir menghadapi isu akan dipolisikannya kembali Pegi Setiawan. Ia menilai putusan pembebasan Pegi yang dikeluarkan oleh Hakim Tunggal Eman Sulaiman sudah cukup untuk mengamankan PS dari potensi kriminalisasi.

“Ya silahkan aja kalau dia mau coba-coba untuk kembali (menangkap) ya. Yang penting buat kami ini keberuntungan karena ini pintu masuk. Buat kita menguak semua peristiwa yang ada,” sebut Rully.

Ia mengaku kini pihaknya telah menyiapkan sejumlah berkas untuk pengajuan PK terkait status tujuh terpidana kasus Vina yang kini dijatuhi hukuman seumur hidup. “Kejanggalan demi kejanggalan. Dari mulai awal penangkapan sampai dengan putusan pengadilan. Banyak sekali yang janggal,” jelasnya.

“Nanti kita lihat saja dalam memori PK kami,” pungkasnya. (rup)

Loading...

loading...

Feeds

Pemkot Bandung Hormati Proses Hukum yang Berjalan

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penjabat Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghormati seluruh proses hukum terkait pemeriksaan …