POJOKBANDUNG.com, BANDUNG– Ramadan menjadi bulan yang begitu berkah bagi pengusaha muda, 30 tahun, Desy Kurniasari. Tepat satu tahun terhitung dari Ramadan tahun lalu, ia merintis usaha di bidang fashion muslim. Ramadan tahun ini pun tokonya tak pernah sepi pengunjung.
Dikenal sebagai sosok sukses dan inspiratif, Desy beserta empat orang rekannya, Rizal, Agus, dan Fatma berhasil merintis bisnis ini. Saat ini ia memiliki tiga toko pakaian muslim di tiga kota besar Jawa Barat, yakni Garut, Tasikmalaya, dan Kota Bandung, Itu belum termasuk usaha online yang ia geluti.
Bahkan saat ini, ia sudah mempunyai 50 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Di toko yang berukuran sekitar 3 kali 7 meter yang terletak di Jalan Dipatiukur No. 68 B ini, Desy, menyusun setiap koleksi pakaian hasil design tangan dinginnya.
Saat ini ia sudah memiliki sebanyak 23 style (model) kerudung instan maupun hijab serta memiliki 7 model pakaian pria dan wanita. Selain pakaian, ada pula tas dan sepatu untuk melengkapi toko busana muslim ini.
Di sepanjang ruko inilah Desy harus bersaing dengan bisnis pakaian yang terbilang lebiih modern. Seperti Distro pakaian modern dan pakaian out door.Tapi Ramadan selalu membawa berkah bagi usahanya dan tokonya tidak pernah sepi pembeli.
Namun, berbanding terbalik dengan nama besar brand pakaian miliknya, Elhira Hijab, Desy adalah sosok rendah hati yang terbuka. Awal mula perjalanannya menekuni bisnis di bidang pakaian ini, tidak seinstan yang orang lain lihat.Perempuan lulusan Penyiaran Islam UIN Bandung 2004 ini, sempat tidak mendapat restu kedua orang tuanya untuk menggeluti dunia fahion design.
“Lulus sekolah sebenarnya saya mau masuk jurusan design, tapi orang tua tidak merestui karena saya perempuan,” tuturDesy.
Lulusan di bidang penyiaran tak menghalangi cita-cita Desy untuk menggeluti usahanya di bidang design. Sebelum menggeluti usaha di bidang ini, Desy sempat bekerja sebagai pembuat karikatur beberapa media cetak di Kota Bandung. Selain itu, latar belakang keluarga yang kebanyakan menekuni dunia design menjadi pendorong Desy untuk terus berkarya.
Sempat juga bekerja selama 7 tahun di salah satu brand fashion muslim ternama di Indonesia, menjadikan Desy sebagai designer pakaian muslim yang digandrungi brand ternama. Sampai saat ini Desy masih selalu menerima pesanan design pakaian muslim dari rekan-rekannya.
“Di perusahaan itu ibaratnya saya sekolah di sana, sekolah tapi dibayar,” kata Desy.
Alasan Desy menekuni bisnis di dunia fashion muslim karena dia beranggapan, Indonesia merupakan pasar muslim terbesar dan orang-orangnya sangat terbuka terhadap pakaian muslim. Dia bercita-cita memperkenalkan pakaian muslim yang modern.
“Orang Indonesia sangat terbuka dengan datangnya hijab, datangnya kerudung dengan model-model kerudung masa kini,” jelasDesy.
Namun ada hal lain yang membuat Desy terus menggeluti bisnis ini. Selain pangsa pasar begitu besar, yang membuat Desy terus menekuni usaha di bidang fashion ini.
Ia juga ingin memperkenalkan baju muslim yang masa kini dan modern tapi juga tampil modis dan cantik.
“Kita ingin memperkenalkan baju muslim, katakanlah kalo orang memakai baju muslim yang menutup aurat itu kampungan dan sebagainya, out off datelah. Kali ini kita ingin membuat orang-orang dengan pakaian muslim juga mereka bisa tampil modis, tampil cantik, dan tidak ketinggalan Zaman,” ungkap Desy.
Ramadan baru memasuki hari kedua, pendapatan Desy sudah meningkat 30 persen dari hari biasanya.Kemungkinan, kata dia, pendapatannya akan meningkat menjelang Idul Fiitri.
“Biasanya H-10 menjelang Idul Fitri akan lebih signifikan,” papar Desy.
Untuk kedepannya Desy akan membuka satu brand baru yang mengusung tema Green Avocado. Target pasar Desy pada brand kali ini ialah remaja yang notabene enggan mengenakan pakaian muslim.Ia percaya bahwa setiap orang mempunyai mimpi dan cita-cita yang harus dilaksanakan.
Ia mengungkapkan bahwa ada perbedaan antara mimpi dan cita-cita.
“Mimpi hanya sekadar berangan-angan, namun cita-cita merupakan menjalankan proses tersebut,” pungkas Desy. (calam)